Lagu Chirsye di bawah ini adalah salah satu lagu favorit saya.
***
GELAP KAN SIRNA
Satu masa
Lewat berganti
Diputar detik
Detak ku berhenti
Tiba tuk menyepi
Sendiri ku bermimpi
Luka hati
Bagai ada duri
Beragam coba
Ingin kututupi
Mataku mengabut
Teteskan kerinduan
Kasih bayangan sedih perlahan pupus jua
Badai gelap, kini sinarkan cahaya wooh
Sayup sepi percikan rasa damai
Pintu hati kini kubuka tuk jelang esok
Pijar api barakan dendamku
Getaran cinta, padamkan kembali
Namamu menyusup
Bisikan lirikku menggapaimu
Raihana Kumbara
Kumpulan tulisan yang tercecer...
Kamis, 01 September 2016
Senin, 16 Mei 2016
...
Baru saja menyelesaikan tiga suap, wajah ayah mulai memerah. Sesekali meneguk air putih agar makanan di mulut cepat ditelan. Tibalah suapan terakhir, langsung meneguk satu gelas air secara perlahan. Dengan nada lembut, ayah berkata,
"Sarah, lain kali jangan beli mie instan merek ini, ya. Ayah lebih suka merek Star."
"Nggak enak ya, Ayah?" Sambil bertanya dahi Sarah mengernyit.
"Enak, kok. Tapi Ayah lebih suka yang merek Star," ujar ayah sambil tersenyum.
Dalam hati, Sarah mengerti maksud ayah. Ayah tidak suka sama mie instan yang sedang jadi bahan perbincangan teman-temannya di Instagram. Hanya saja, beliau tidak mau mengatakannya langsung. Lelaki bermata tajam itu tidak mau "menjatuhkan" semangat anak sulungnya yang membeli kemudian masak mie itu dengan semangat.
Medan, 250416
Rabu, 11 Mei 2016
....
Terik sang surya telah tiba.
Dada ini bergemuruh.
Bibirpun ikut kebas.
Aku telah membayangkan,
Akan segera menemui,
Dan juga kawan-kawannya.
Kaki ini melangkah dengan cepat,
Ke tempat dirimu berada.
Hah, hatiku patah!
Begitu aku membuka rumahmu,
Kau dan teman-temanmu tidak ada.
Berkeping-keping hati ini hancur.
Tapi tidak sampai meneteskan air mata,
Karena bercampur dengan gelak tawa.
Geli aku!
Kini aku tak bisa meminummu lagi,
Pada jam makan siang.
Kopi dan susu telah raib di lemari.
Dada ini bergemuruh.
Bibirpun ikut kebas.
Aku telah membayangkan,
Akan segera menemui,
Dan juga kawan-kawannya.
Kaki ini melangkah dengan cepat,
Ke tempat dirimu berada.
Hah, hatiku patah!
Begitu aku membuka rumahmu,
Kau dan teman-temanmu tidak ada.
Berkeping-keping hati ini hancur.
Tapi tidak sampai meneteskan air mata,
Karena bercampur dengan gelak tawa.
Geli aku!
Kini aku tak bisa meminummu lagi,
Pada jam makan siang.
Kopi dan susu telah raib di lemari.
Medan, 101215
...
Bayangan itu kembali muncul malam ini.
Dada ini terasa sesak.
Tapi air mata tidak ikut muncul.
Lima tahun yang lalu
Aku kembali menyapanya
Setelah sekian lama
Aku tidak bersamanya.
Tepat lima tahun sudah,
Kebersamaan kami.
Sering ikut ke manapun aku pergi.
Aku simpan dia di dalam tas.
Dan kalau sedikit lapar,
Aku memakannya.
Bengbeng,
Gara-gara kamu, Sayang,
Terpaksa aku sikat gigi dua kali malam ini.
Medan, 051215
Dada ini terasa sesak.
Tapi air mata tidak ikut muncul.
Lima tahun yang lalu
Aku kembali menyapanya
Setelah sekian lama
Aku tidak bersamanya.
Tepat lima tahun sudah,
Kebersamaan kami.
Sering ikut ke manapun aku pergi.
Aku simpan dia di dalam tas.
Dan kalau sedikit lapar,
Aku memakannya.
Bengbeng,
Gara-gara kamu, Sayang,
Terpaksa aku sikat gigi dua kali malam ini.
Medan, 051215
Senin, 09 Mei 2016
Demi Sebotol Air Mineral
Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat
kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur
kesengajaan.
***
“Koran-koran… Koran-koran…” Suara ibu penjual Koran terdengar melengking. Sebenarnya aku tidak membutuhkan koran itu, karena di kantorpun bisa baca koran gratis, tapi tidak ada salahnya membeli.
Sambil membuka kaca mobil dan mengeluarkan uang, “Satu ya, Bu.”
“Alhamdulillah… Makasih ya, Nak.” Sambil menyodorkan korannya.
Tiba di depan kantor terlihat pemulung sedang membersihkan botol air mineral bekas pakai air comberan. Badan kurus, baju lusuh, dan umur kira-kira 40 tahunan. Aku mendekatinya dan memberi sepotong roti dan air mineral. Dia menerimanya sambil tersenyum dan menunduk.
Di depan pintu masuk setelah absen (finger scan) langsung naik taksi lagi menuju sebuah hotel, ada sosialisasi tentang pekerjaan. Selama acara berlangsung kami disediain makanan ringan dan beberapa botol air mineral. Ada yang menghabiskan air mineralnya, ada juga yang menyisakannya, bahkan lebih banyak yang menyisakannya. Setelah acara selesai, kami segera menuju pintu keluar, ketika melihat ke belakang sekilas, tidak sengaja aku melihat beberapa botol air mineral yang bersisa. Hmmm, miris. Mubazir.
Sebelum kembali ke kantor, jajan dulu di belakang bangunan hotel. Aku memang suka jajan di pinggir jalan. Kebiasaan yang nggak bisa diubah sejak kecil. Baru sesuap mie, didatangi seorang gadis kecil (kira-kira umurnya lima tahun), membuka jilbabnya, lalu menawarkannya untuk aku beli.
“Tolong beli, Kak.. Rp.3000 saja.”
Keadaan jilbab itu sudah sangat lusuh, mengeluarkan aroma tidak sedap, bahkan sudah tidak layak lagi dipakai.
“Pakai saja kembali, Dik jilbabnya.” Sambil memakaikannya lagi ke kepala dia.
Dia kembali melepasnya. “Tolong Kak, aku sangat butuh Rp. 3000 itu. Belilah jilbab ini..”
“Ok lah.. Aku akan membelinya. Ini. Aku memberikan selembaran uang Rp. 10.000. Kembalinya untukmu saja, Dik.”
“Jangan begitu Kak.. Aku mohon bayarlah dengan uang pas. Aku tidak ingin mengharapkan lebih seperti ini.”
Karena dia terus memaksa, aku langsung mengeluarkan tiga lembar uang Rp. 1000. “Ini Dik.”
“Makasih ya, Kak.” Senyumnya mengembang dengan manis.
Penasaran dengan gadis kecil itu, mengikuti dia dari belakang. Dia membeli satu botol air mineral. Terus mengikutinya, tibalah di lorong agak sempit. Tempat itu kurang bersih. Ada sedikit tumpukan sampah. Di situ aku melihat seorang wanita yang tidak begitu tua, tapi badannya sangat kurus dan tubuhnya sangat kotor.
“Emak… Ini diminum dulu.” Gadis kecil itu menyodorkan air mineral itu ke mulut ibu itu. Ibu itu hanya tersenyum. Terdengar lirihan hamdalah yang keluar dari bibirnya.
“Ini, Lili harus minum juga.” Sang ibu memberi sisa air mineral kepada gadis kecil itu.
“Lili minumnya dikit aja kok, Mak. Alhamdulillah ya Mak.. Tapi Mak, jilbab kesayangan Lili udah dijual. Nantik Lili cari kerja ya Mak..”
Sang ibu hanya memeluknya. Aku terpaku tidak jauh di hadapan mereka. Selama ini menyangka sering menebar kehangatan kepada banyak makhluk. Akulah peri itu, orang lain lah yang membutuhkanku. Begitu sombong. Ternyata diri inilah yang butuh kehangatan itu. Diri ini hanya seorang hamba yang selalu butuh kehangatan-Nya. Aku terduduk lemas di tanah, bulir air mata satu per satu jatuh tanpa bisa dibendung, makin lama makin deras. Tidak sadar, sekarang aku sudah berada di dalam pelukan gadis kecil itu. Dia memelukku dengan sangat erat.
-Selesai-
Medan, 041115
***
“Koran-koran… Koran-koran…” Suara ibu penjual Koran terdengar melengking. Sebenarnya aku tidak membutuhkan koran itu, karena di kantorpun bisa baca koran gratis, tapi tidak ada salahnya membeli.
Sambil membuka kaca mobil dan mengeluarkan uang, “Satu ya, Bu.”
“Alhamdulillah… Makasih ya, Nak.” Sambil menyodorkan korannya.
Tiba di depan kantor terlihat pemulung sedang membersihkan botol air mineral bekas pakai air comberan. Badan kurus, baju lusuh, dan umur kira-kira 40 tahunan. Aku mendekatinya dan memberi sepotong roti dan air mineral. Dia menerimanya sambil tersenyum dan menunduk.
Di depan pintu masuk setelah absen (finger scan) langsung naik taksi lagi menuju sebuah hotel, ada sosialisasi tentang pekerjaan. Selama acara berlangsung kami disediain makanan ringan dan beberapa botol air mineral. Ada yang menghabiskan air mineralnya, ada juga yang menyisakannya, bahkan lebih banyak yang menyisakannya. Setelah acara selesai, kami segera menuju pintu keluar, ketika melihat ke belakang sekilas, tidak sengaja aku melihat beberapa botol air mineral yang bersisa. Hmmm, miris. Mubazir.
Sebelum kembali ke kantor, jajan dulu di belakang bangunan hotel. Aku memang suka jajan di pinggir jalan. Kebiasaan yang nggak bisa diubah sejak kecil. Baru sesuap mie, didatangi seorang gadis kecil (kira-kira umurnya lima tahun), membuka jilbabnya, lalu menawarkannya untuk aku beli.
“Tolong beli, Kak.. Rp.3000 saja.”
Keadaan jilbab itu sudah sangat lusuh, mengeluarkan aroma tidak sedap, bahkan sudah tidak layak lagi dipakai.
“Pakai saja kembali, Dik jilbabnya.” Sambil memakaikannya lagi ke kepala dia.
Dia kembali melepasnya. “Tolong Kak, aku sangat butuh Rp. 3000 itu. Belilah jilbab ini..”
“Ok lah.. Aku akan membelinya. Ini. Aku memberikan selembaran uang Rp. 10.000. Kembalinya untukmu saja, Dik.”
“Jangan begitu Kak.. Aku mohon bayarlah dengan uang pas. Aku tidak ingin mengharapkan lebih seperti ini.”
Karena dia terus memaksa, aku langsung mengeluarkan tiga lembar uang Rp. 1000. “Ini Dik.”
“Makasih ya, Kak.” Senyumnya mengembang dengan manis.
Penasaran dengan gadis kecil itu, mengikuti dia dari belakang. Dia membeli satu botol air mineral. Terus mengikutinya, tibalah di lorong agak sempit. Tempat itu kurang bersih. Ada sedikit tumpukan sampah. Di situ aku melihat seorang wanita yang tidak begitu tua, tapi badannya sangat kurus dan tubuhnya sangat kotor.
“Emak… Ini diminum dulu.” Gadis kecil itu menyodorkan air mineral itu ke mulut ibu itu. Ibu itu hanya tersenyum. Terdengar lirihan hamdalah yang keluar dari bibirnya.
“Ini, Lili harus minum juga.” Sang ibu memberi sisa air mineral kepada gadis kecil itu.
“Lili minumnya dikit aja kok, Mak. Alhamdulillah ya Mak.. Tapi Mak, jilbab kesayangan Lili udah dijual. Nantik Lili cari kerja ya Mak..”
Sang ibu hanya memeluknya. Aku terpaku tidak jauh di hadapan mereka. Selama ini menyangka sering menebar kehangatan kepada banyak makhluk. Akulah peri itu, orang lain lah yang membutuhkanku. Begitu sombong. Ternyata diri inilah yang butuh kehangatan itu. Diri ini hanya seorang hamba yang selalu butuh kehangatan-Nya. Aku terduduk lemas di tanah, bulir air mata satu per satu jatuh tanpa bisa dibendung, makin lama makin deras. Tidak sadar, sekarang aku sudah berada di dalam pelukan gadis kecil itu. Dia memelukku dengan sangat erat.
-Selesai-
Medan, 041115
Senin, 18 April 2016
Kesasar
A: "Bolehkah saya mengenalmu lebih jauh?"
B: "Apakah kamu siap untuk kesasar di kehidupan saya?"
A: (Terdiam dan berpikir) Insya Allah, Saya siap!
Kita boleh saja berpikir sekeras apapun untuk hidup dengan seseorang. Tapi kita harus siap-siap untuk kehilangan dia lebih cepat daripada kita tidak bergerak dengan segera. Bukan berarti kita harus terburu-buru, karena jelas tidak baik. Harus dalam keadaan "balance", tidak terburu-buru dan tidak terlalu banyak pertimbangan.
B: "Apakah kamu siap untuk kesasar di kehidupan saya?"
A: (Terdiam dan berpikir) Insya Allah, Saya siap!
Kita boleh saja berpikir sekeras apapun untuk hidup dengan seseorang. Tapi kita harus siap-siap untuk kehilangan dia lebih cepat daripada kita tidak bergerak dengan segera. Bukan berarti kita harus terburu-buru, karena jelas tidak baik. Harus dalam keadaan "balance", tidak terburu-buru dan tidak terlalu banyak pertimbangan.
Iseng
*Mengobrol dengan wanita yang kelewat peduli dengan penampilan*
Percakapan 1
A: "Mukamu kayak lenong aja, ketebalan itu make-upnya."
B: "Hehe.."
(Padahal cuma pakai lipstik)
Percakapan 2
A: "Itu muka kok polos amat.. Dipoles dikit napa."
B: "Iyaaaa..😁"
Percakapan 3
A: "Itu kok penuh jerawat mukanya. Perawatan dong kayak Aku.."
B: "Makasih ya sarannya.😘"
Percakapan 4
A: "Wah, mukanya kinclong amat. Pakai apa, Neng?"
B: "Pakai 360.😊"
(Jawab santai, padahal lagi ngobrol langsung.)
😂😁😂
Medan, 020116
Percakapan 1
A: "Mukamu kayak lenong aja, ketebalan itu make-upnya."
B: "Hehe.."
(Padahal cuma pakai lipstik)
Percakapan 2
A: "Itu muka kok polos amat.. Dipoles dikit napa."
B: "Iyaaaa..😁"
Percakapan 3
A: "Itu kok penuh jerawat mukanya. Perawatan dong kayak Aku.."
B: "Makasih ya sarannya.😘"
Percakapan 4
A: "Wah, mukanya kinclong amat. Pakai apa, Neng?"
B: "Pakai 360.😊"
(Jawab santai, padahal lagi ngobrol langsung.)
😂😁😂
Medan, 020116
Langganan:
Postingan (Atom)