Tahun 2010 tulisan ini dibuat, terinspirasi dari seorang dosen saya.
"Lihat segalanya lebih dekat... Dan kau bisa menilai lebih
bijaksana..."
Kalimat di atas adalah sepenggal lirik dari ost. Petualangan Sherina..
Tokoh utama saat ini adalah Laras dan Prof. Hardinawati..
Prof. Hardinawati, atau biasa dipanggil dgn Bu Dina atau Prof. Dina adalah
seorang ketua jurusan merangkap dosen sebuah Departemen di salah satu kampus
terkemuka yg terdapat di Kota Biru. Sehari2 Bu Dina dikenal sebagai seseorang
yg lumayan otoriter. Ga jarang mahasiswa yg merasa "dag dig dug" ketika
akan bertemu beliau. Sudah menjadi rahasia umum, banyak mahasiswa yg tidak
senang dengan Bu Dina. Hmmm... Laras, salah seorang mahasiswa di Fakultas
tersebut awalnya juga "b'pikiran-klu-ibu-ini-kayak-monster". Seiring
dengan berjalannya waktu, opini Laras terhadap Bu Dina berubah drastis. Ketika
itu Laras baru saja seminar proposal, tp swaktu seminar Bu Dina tidak hadir,
kira2 dua minggu kemudian, baru lah dia menjumpai Bu Dina untuk meminta tanda
tangan, padahal itu sudah kelamaan, seharusnya Laras menjumpai Bu Dina sehari
atau setidaknya tiga hari sesudah seminar proposal (dengan catatan: Bu Dina
tidak hadir ketika hari H). Hari itu, Bu Dina baru aja marah2 besar. Laras juga
kurang begitu tau kenapa Bu Dina marah2 gitu. Setelah marah2, Bu Dina beranjak
pergi dari kantor jurusan, padahal Laras belum dapat tanda tangan Bu Dina.
Biasanya kalau lg marah2 gitu, urusan kita dengan Bu Dina kurang berjalan
mulus. Bisa2 kita kena "semprot" ma Bu Dina. Hmm.. Dengan langkah yg
nekat, Laras berjalan mengikuti langkah Bu Dina keluar kantor jurusan. Dina
terus mengikuti... Bu Dina sadar sedang diikuti mahasiswanya.
(Tak disangka tak diduga, Bu Dina manggil Laras kemudian memegang pundaknya,
"seolah-olah ungkapan sayang kepada seorang anak")
Bu Dina: "Ada
keperluan apa Ananda?"
Laras: "Tadinya saya mau minta tanda tangan Ibu untuk absen seminar
proposal saya kemarin... Tapi, sepertinya Ibu sedang sibuk ya?"
Bu Dina: "Mana, coba sini saya liat proposal skripsinya.. (Sambil
melihat cover) Hmm.. ini sudah ananda priksa kan? Ga usah saya priksa lagi ya... Langsung
aja saya tanda tangan.. (Sambil b'pikir) Tp.. Kenapa kok lama kali baru minta
tanda tangan saya..?"
Laras: "Saya sakit Bu..." (Memang benar ya Laras sakit..)
Bu Dina: (sambil menandatangani) Oh, pakai surat dokter aja... Ananda ga usah kuliah
dulu.."
Laras: "Sekarang saya sudah sembuh kok Bu.. Lagian saya ga ada mata
kuliah lagi.."
Bu Dina: "Ok lah ananda... istirahat yang cukup ya... Skripsinya pelan2
saja ngerjainnya..." (Sambil tersenyum).
Laras: (Terharu, tapi ga berani nangis. Tapi, seketika itu juga opini Laras
berubah terhadap Bu Dina. Tiba2 Laras jadi sayang sama Bu Dina. Pendapat2 orang
tentang Bu Dina yg jelek2... = Laras ogah ah terlalu nanggepinnya.. Hmmm.. wlu
terkadang Laras juga kesal ma tingkah Bu Dina. He5)
Di dunia ini ga ada satu pun ciptaaan Allah yg sempurna karena kesempurnaan
hanya milik Allah semata. Kita ga boleh menilai orang hanya dari cover luarnya
aja. Seseorang yg kelihatan baik, belum tentu dia sepenuhnya baik. Sebaliknya,
seseorang yg kelihatan pemarah, judes, jutek atau apalah namanya, belum tentu
dia sejelek yg kita kira. Terkadang kita, manusia, hanya bisa
"mengkambing-hitamkan" keadaan d satu situasi yg membuat kita
terpuruk. Dunia tempat kita berpijak ini cukup luas... Jadi, mari lah kita manusia
sama2 saling memahami satu sama lain, tanpa ada pikiran negatif terhadap
sesuatu itu. Waspada boleh saja kita lakukan, asal tidak berlebihan. Menyikapi
perbedaan dengan lebih arif akan membawa kita pada kedamaian yg mungkin saja
saat ini sudah "langka". Kalau kita berharap mencari orang yang
sempurna, maka selamanya kita ga akan punya teman. Saya bukan lah seseorang
yang sempurna, tetapi saya akan berusaha hari demi hari meminimalisir sikap2
jelek yg terdapat di dalam diri sendiri. Teman2 juga bisa kan melakukannya???
Maafkanlah semua kesalahan saya ya teman2 kalau ada khilaf..:)
(^_^)
Selasa, 22 September 2015
Air dan Api (No body's perfect)
Tulisan ini dibuat sekitar tahun 2010..
"No body's perfect"
Istilah di atas sering dibilang oleh orang. Saya pribadi, setuju dengan istilah itu. Memang siy.. ga da yg sempurna, kecuali Allah.. Tapi, segelintir orang menggunakan dalil "No body's perfect" untuk menyakiti orang lain.
Di bawah ini ada sebuah cerita..
Seorang mahasiswa, sebut aja Laras yg mempunyai sahabat bernama Agnes. Mereka berteman sejak pertama kali kuliah di Diploma.. Persahabatan mereka berlanjut ke ekstensi... Di ekstensi, mereka memang berkenalan dengan banyak orang baru, tapi, saat ini yg saya fokuskan hanya pada 2 orang saja. Laras dan Agnes kenalan dengan 2 orang cew, Hana dan Lulu. Hana dan Lulu berteman cukup dekat (menurut definisi Laras ketika itu). Awal pertemanan mereka baik-baik saja. Bahkan Laras ga jarang jalan2 dengan Hana dan Lulu, saat itu Laras jd jarang jalan2 dengan Agnes, karena Agnes sudah bekerja. Seiring berjalan waktu, Laras sering mendengar cerita "ga baik" tentang Hana dari Lulu. Ga gitu lama, Laras bermasalah dengan Lulu. Masalah mereka hanya salah paham menurut Laras. Hmm.. tp, Laras mendengar cerita "kurang menyenangkan" tentang dia yg mungkin sudah sampai ke telinga sahabatnya Agnes, hal itu disampaikan oleh Lulu. Huhhfft!! Laras bersyukur, karena Agnes bukan tipe orang yg gampang percaya dengan "hasutan" orang lain. Laras dan Agnes sudah berteman jauh sebelum mereka kenal dengan Lulu, jd sudah tau kebaikan dan keburukan masing2. Selain itu Laras juga tetap berteman baik dengan Hana. Lambat laun, Laras berteman lg dengan Lulu. Laras berpikir, setiap orang pasti punya salah, jd klu mau berubah jd baik, ga ada salahnya kan. Toh, Laras juga ga merasa dirinya sempurna. Tapi.... Lulu jg ga berubah. Lulu sering cerita "jelek" tentang Agnes ke Laras. Bukan itu saja... Lulu juga ikut "menegatifkan" perilaku Hana. Wahhhh... Syukurnya, Laras ga mudah terpengaruh dengan segala "rayuan negatif" dari Lulu. Laras ga mau terjerumus ke lembah "penuh kekosongan ga ada teman". Satu hal yg pasti, Laras ga dendam dengan Lulu. Dalam hati Laras, semoga Lulu bisa berubah suatu hari nanti. Laras juga ga mau bersumpah untuk ga mau berteman lg dengan dia. Bukannya sok baik..., tp jelas aja Laras ga mau takabbur.. "Jangan pernah membanting pintu, siapa tau kita harus kembali".
Dari cerita di atas kita bisa ambil hikmah.. Memang siy... ga da manusia yg sempurna d dunia ini.. Tapi, kita ga boleh menjadikan "istilah" itu untuk berusaha nyakitin orang lain.. Apalagi kalau kita pernah berhubungan baik dengan orang itu.. Dalam setiap hubungan itu pasti ada masalah.. Masalah yg sudah terlanjur ada, jangan diumpetin, ato malah digembar-gemborkan ke org yg tdk bersangkutan (yg ada malah timbul fitnah), tp sbaiknya dibicarain dengan org yg b'sangkutan langsung. Kalau dia tidak suka dengan crita kita ato crita tentang "keburukan kita yg dilebih2kan" udah terlanjur tersebar, ya udah.. ga usah ambil pusing.. Kita jalani aja "jalan" kita, dan dia jalani "jalan" dia.. Hidup ini cuman bentar, jd dibawa "asyik" aja, asal kita tetap berada pada koridor kodrat kita sebagai makhluk Allah. Yakin aja, apa yg kita tanam, itu yg kita tuai..:)
"Mengapa kita saling membenci?
Awalnya kita saling memberi
Apa tak mungkin hati yang murni sudah cukup berarti?
Ataukah kita belum mencoba memberi waktu pada logika?
Jangan seperti selama ini, hidup bagaikan air dan api."
(By. Naif)
"No body's perfect"
Istilah di atas sering dibilang oleh orang. Saya pribadi, setuju dengan istilah itu. Memang siy.. ga da yg sempurna, kecuali Allah.. Tapi, segelintir orang menggunakan dalil "No body's perfect" untuk menyakiti orang lain.
Di bawah ini ada sebuah cerita..
Seorang mahasiswa, sebut aja Laras yg mempunyai sahabat bernama Agnes. Mereka berteman sejak pertama kali kuliah di Diploma.. Persahabatan mereka berlanjut ke ekstensi... Di ekstensi, mereka memang berkenalan dengan banyak orang baru, tapi, saat ini yg saya fokuskan hanya pada 2 orang saja. Laras dan Agnes kenalan dengan 2 orang cew, Hana dan Lulu. Hana dan Lulu berteman cukup dekat (menurut definisi Laras ketika itu). Awal pertemanan mereka baik-baik saja. Bahkan Laras ga jarang jalan2 dengan Hana dan Lulu, saat itu Laras jd jarang jalan2 dengan Agnes, karena Agnes sudah bekerja. Seiring berjalan waktu, Laras sering mendengar cerita "ga baik" tentang Hana dari Lulu. Ga gitu lama, Laras bermasalah dengan Lulu. Masalah mereka hanya salah paham menurut Laras. Hmm.. tp, Laras mendengar cerita "kurang menyenangkan" tentang dia yg mungkin sudah sampai ke telinga sahabatnya Agnes, hal itu disampaikan oleh Lulu. Huhhfft!! Laras bersyukur, karena Agnes bukan tipe orang yg gampang percaya dengan "hasutan" orang lain. Laras dan Agnes sudah berteman jauh sebelum mereka kenal dengan Lulu, jd sudah tau kebaikan dan keburukan masing2. Selain itu Laras juga tetap berteman baik dengan Hana. Lambat laun, Laras berteman lg dengan Lulu. Laras berpikir, setiap orang pasti punya salah, jd klu mau berubah jd baik, ga ada salahnya kan. Toh, Laras juga ga merasa dirinya sempurna. Tapi.... Lulu jg ga berubah. Lulu sering cerita "jelek" tentang Agnes ke Laras. Bukan itu saja... Lulu juga ikut "menegatifkan" perilaku Hana. Wahhhh... Syukurnya, Laras ga mudah terpengaruh dengan segala "rayuan negatif" dari Lulu. Laras ga mau terjerumus ke lembah "penuh kekosongan ga ada teman". Satu hal yg pasti, Laras ga dendam dengan Lulu. Dalam hati Laras, semoga Lulu bisa berubah suatu hari nanti. Laras juga ga mau bersumpah untuk ga mau berteman lg dengan dia. Bukannya sok baik..., tp jelas aja Laras ga mau takabbur.. "Jangan pernah membanting pintu, siapa tau kita harus kembali".
Dari cerita di atas kita bisa ambil hikmah.. Memang siy... ga da manusia yg sempurna d dunia ini.. Tapi, kita ga boleh menjadikan "istilah" itu untuk berusaha nyakitin orang lain.. Apalagi kalau kita pernah berhubungan baik dengan orang itu.. Dalam setiap hubungan itu pasti ada masalah.. Masalah yg sudah terlanjur ada, jangan diumpetin, ato malah digembar-gemborkan ke org yg tdk bersangkutan (yg ada malah timbul fitnah), tp sbaiknya dibicarain dengan org yg b'sangkutan langsung. Kalau dia tidak suka dengan crita kita ato crita tentang "keburukan kita yg dilebih2kan" udah terlanjur tersebar, ya udah.. ga usah ambil pusing.. Kita jalani aja "jalan" kita, dan dia jalani "jalan" dia.. Hidup ini cuman bentar, jd dibawa "asyik" aja, asal kita tetap berada pada koridor kodrat kita sebagai makhluk Allah. Yakin aja, apa yg kita tanam, itu yg kita tuai..:)
"Mengapa kita saling membenci?
Awalnya kita saling memberi
Apa tak mungkin hati yang murni sudah cukup berarti?
Ataukah kita belum mencoba memberi waktu pada logika?
Jangan seperti selama ini, hidup bagaikan air dan api."
(By. Naif)
Hanya mampu menjadi sebatang lilin… The Right Moment In The Right Time… ;)
Ini dia tulisan waktu zaman lebay-lebaynya aku.. Ditulis sekitar tahun 2010.
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 12.20 dini hari, tapi dewi belum bisa tidur, jadi ketimbang ngayal yang aneh-aneh, mendingan dewi ngetik cerita tentang Laras aja ya…
catatan: Laras itu tokoh fiktif aja kok..;)
*Impian Laras Sejak Usia 20 Tahun*
Aku Laras…
Suatu saat seorang “pangeran berkuda putih” akan datang menjemputku.
Tahukah kalian…
Aku akan mengatakan pada pangeran tersebut bahwa aku hanya mampu menjadi sebatang lilin bagi dia, bukan matahari.
Matahari mempunyai cahaya yang permanen dan abadi untuk menyinari bumi sampai sangkakala ditiup oleh Malaikat Isrofil. Sedangkan sebatang lilin, cahaya yang diberikannya tidak abadi. Dia tidak memerlukan waktu sampai kiamat untuk redup, cahayanya bisa muncul kembali jika si pemilik mengumpulkan kerak lilin yang mencair kemudian menancapkan kembali sumbu tersebut di kumpulan kerak lilin tersebut, begitu seterusnya.
Siti Nurhaliza dan Afgan mengatakan, Cintaku bukan cinta biasa… Lain halnya dengan aku. Aku hanya bisa menawarkan “cinta yang biasa” kepada pangeranku kelak. Karena aku sangat sadar kalau aku hanyalah karya Sang Maha Pencipta yang hatinya bisa terbolak-balik menurut kehendak-Nya.
Aku tidak mau mengumbar janji akan membahagiakan dia seutuhnya (total) karena kebahagiaan itu sebenarnya sudah ada di dalam hati manusia masing-masing, terkadang dia tidur, terkadang dia bangun, tinggal bagaimana manusia tersebut menginterpretasikan kondisi yang terjadi di tiap lembar kehidupannya. Salah satu kunci bahagia itu, tetapi memiliki poin yang cukup besar adalah ikhlas. Dia ikhlas menerimaku sebagai pasangan hidupnya, otomatis bagaimana pun kondisi kehidupan kami dia tetap merasakan kebahagiaan itu, walau kebahagiaan tersebut akan terlihat seperti grafik tingkat pertumbuhan pendapatan masyarakat (naik turun).
Cintaku memang hanyalah cinta yang sederhana, tetapi…
Sama seperti lilin, di ruangan yang gelap, cahayanya akan terasa begitu istimewa. Aku akan selalu menemaninya di sisa hidupnya walau di suatu keadaan seluruh manusia di dunia ini memusuhinya. Mungkin aku tidak bisa menciptakan tawa di wajahnya ketika dia sedang bersedih dan menangis, tetapi aku akan menghapus air matanya dengan kedua tangan kecil yang kumiliki, aku akan mendengar semua cerita dia, walau aku mungkin tidak paham seutuhnya tentang kesedihan yang dialaminya. Mungkin aku tidak mampu melakukan apa yang mampu dilakukannya, kami memiliki “dunia yang berbeda”, tetapi aku akan melengkapi sisa-sisa hal-hal yang tidak mampu dilakukannya, seperti jumlah abjad, misal dia melakukan A-N, aku melakukan O-Z, karena aku menyadari hidup ini adalah saling melengkapi bukan saling menandingi.
+++++++ (tambahan cerita. hehe..)
Hmmm… kalau yang ini siy ga wajib2 kali.. Mungkin Laras akan sedih jika pangeran Laras kelak benci atau tidak suka dengan kucing, Laras says, “because I love the cats so much”. Laras memang ga punya kucing peliharaan, tetapi kucing-kucing yang datang ke rumahnya akan diberi makan seadanya. Semua kucing diperlakukan sama oleh Laras (walau kucing kurapan sekali pun), setiap Laras melihat kucing (walau ga selalu, di tempat keramaian ya Laras ga mau manggil2 kucing, ntar disangka orang kurang waras), Laras akan memanggil kucing itu dengan sebutan, “Puuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuss..”. Satu lagi, Laras mempunyai impian untuk ke Jerman suatu hari, maunya siy dengan pangerannya, tetapi sendiri ya gak apa2 lah… Pada umumnya, orang2 berpendapat, Paris adalah kota yang romantis dan indah, hmm, Laras bilang, kota2 di Jerman lah yang romantis dan ga kalah indahnya dengan Paris. Pokoke: “Jerman… I’m coming”.
Saat ini, Laras belum bertemu dengan pangeran sejatinya. Tetapi dia percaya. Soon or later, pangerannya akan datang menjemputnya, walau ga pake kuda. Ooooo...
Sekian dulu cerita tentang Laras.
(note)
Pada suatu saat kita akan dihadapi dengan seseorang yang kita sangka dia adalah “pangeran” atau "permaisuri" kita, tetapi tiba-tiba dia menghilang dari kehidupan kita disaat kita belum memiliki persiapan, lalu apa yang harus kita lakukan??? Kita ga boleh larut… karena kita bertemu dengan orang yang salah dulu baru bertemu dengan orang yang benar buat kita. Kalau ga ada orang yang memotivasi kita di saat kita terpuruk, ya kita harus bangkit sendiri. Hidup ini seperti buku, terdiri dari berlembar2 cerita, kita adalah tokoh utama dalam kehidupan kita masing-masing, jadi siap atau ga siap kita harus sabar melewati lembar demi lembar kehidupan kita. Semua akan terjadi sesuai dengan porsinya masing-masing di waktu yang tepat. The right moment in the right time..;)
Jam sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Dewi udah ngantuk...
Werde mich hinlegen..
Guten Abend..:)
(^_^)
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 12.20 dini hari, tapi dewi belum bisa tidur, jadi ketimbang ngayal yang aneh-aneh, mendingan dewi ngetik cerita tentang Laras aja ya…
catatan: Laras itu tokoh fiktif aja kok..;)
*Impian Laras Sejak Usia 20 Tahun*
Aku Laras…
Suatu saat seorang “pangeran berkuda putih” akan datang menjemputku.
Tahukah kalian…
Aku akan mengatakan pada pangeran tersebut bahwa aku hanya mampu menjadi sebatang lilin bagi dia, bukan matahari.
Matahari mempunyai cahaya yang permanen dan abadi untuk menyinari bumi sampai sangkakala ditiup oleh Malaikat Isrofil. Sedangkan sebatang lilin, cahaya yang diberikannya tidak abadi. Dia tidak memerlukan waktu sampai kiamat untuk redup, cahayanya bisa muncul kembali jika si pemilik mengumpulkan kerak lilin yang mencair kemudian menancapkan kembali sumbu tersebut di kumpulan kerak lilin tersebut, begitu seterusnya.
Siti Nurhaliza dan Afgan mengatakan, Cintaku bukan cinta biasa… Lain halnya dengan aku. Aku hanya bisa menawarkan “cinta yang biasa” kepada pangeranku kelak. Karena aku sangat sadar kalau aku hanyalah karya Sang Maha Pencipta yang hatinya bisa terbolak-balik menurut kehendak-Nya.
Aku tidak mau mengumbar janji akan membahagiakan dia seutuhnya (total) karena kebahagiaan itu sebenarnya sudah ada di dalam hati manusia masing-masing, terkadang dia tidur, terkadang dia bangun, tinggal bagaimana manusia tersebut menginterpretasikan kondisi yang terjadi di tiap lembar kehidupannya. Salah satu kunci bahagia itu, tetapi memiliki poin yang cukup besar adalah ikhlas. Dia ikhlas menerimaku sebagai pasangan hidupnya, otomatis bagaimana pun kondisi kehidupan kami dia tetap merasakan kebahagiaan itu, walau kebahagiaan tersebut akan terlihat seperti grafik tingkat pertumbuhan pendapatan masyarakat (naik turun).
Cintaku memang hanyalah cinta yang sederhana, tetapi…
Sama seperti lilin, di ruangan yang gelap, cahayanya akan terasa begitu istimewa. Aku akan selalu menemaninya di sisa hidupnya walau di suatu keadaan seluruh manusia di dunia ini memusuhinya. Mungkin aku tidak bisa menciptakan tawa di wajahnya ketika dia sedang bersedih dan menangis, tetapi aku akan menghapus air matanya dengan kedua tangan kecil yang kumiliki, aku akan mendengar semua cerita dia, walau aku mungkin tidak paham seutuhnya tentang kesedihan yang dialaminya. Mungkin aku tidak mampu melakukan apa yang mampu dilakukannya, kami memiliki “dunia yang berbeda”, tetapi aku akan melengkapi sisa-sisa hal-hal yang tidak mampu dilakukannya, seperti jumlah abjad, misal dia melakukan A-N, aku melakukan O-Z, karena aku menyadari hidup ini adalah saling melengkapi bukan saling menandingi.
+++++++ (tambahan cerita. hehe..)
Hmmm… kalau yang ini siy ga wajib2 kali.. Mungkin Laras akan sedih jika pangeran Laras kelak benci atau tidak suka dengan kucing, Laras says, “because I love the cats so much”. Laras memang ga punya kucing peliharaan, tetapi kucing-kucing yang datang ke rumahnya akan diberi makan seadanya. Semua kucing diperlakukan sama oleh Laras (walau kucing kurapan sekali pun), setiap Laras melihat kucing (walau ga selalu, di tempat keramaian ya Laras ga mau manggil2 kucing, ntar disangka orang kurang waras), Laras akan memanggil kucing itu dengan sebutan, “Puuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuss..”. Satu lagi, Laras mempunyai impian untuk ke Jerman suatu hari, maunya siy dengan pangerannya, tetapi sendiri ya gak apa2 lah… Pada umumnya, orang2 berpendapat, Paris adalah kota yang romantis dan indah, hmm, Laras bilang, kota2 di Jerman lah yang romantis dan ga kalah indahnya dengan Paris. Pokoke: “Jerman… I’m coming”.
Saat ini, Laras belum bertemu dengan pangeran sejatinya. Tetapi dia percaya. Soon or later, pangerannya akan datang menjemputnya, walau ga pake kuda. Ooooo...
Sekian dulu cerita tentang Laras.
(note)
Pada suatu saat kita akan dihadapi dengan seseorang yang kita sangka dia adalah “pangeran” atau "permaisuri" kita, tetapi tiba-tiba dia menghilang dari kehidupan kita disaat kita belum memiliki persiapan, lalu apa yang harus kita lakukan??? Kita ga boleh larut… karena kita bertemu dengan orang yang salah dulu baru bertemu dengan orang yang benar buat kita. Kalau ga ada orang yang memotivasi kita di saat kita terpuruk, ya kita harus bangkit sendiri. Hidup ini seperti buku, terdiri dari berlembar2 cerita, kita adalah tokoh utama dalam kehidupan kita masing-masing, jadi siap atau ga siap kita harus sabar melewati lembar demi lembar kehidupan kita. Semua akan terjadi sesuai dengan porsinya masing-masing di waktu yang tepat. The right moment in the right time..;)
Jam sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Dewi udah ngantuk...
Werde mich hinlegen..
Guten Abend..:)
(^_^)
Langganan:
Postingan (Atom)