Kamis, 26 November 2015

Teller Miring



Seorang laki-laki diperkirakan umur 30-35 tahun mendatangi sebuah bank dan transaksi di tempat teller. Kondisi bank tidak begitu ramai. Hanya tiga nasabah dengan tellernya lima orang, jadi ada dua counter yang kosong.

“Selamat pagi, Pak. Saya Lala. Boleh saya tahu nama Bapak?” (Menyapa dengan senyuman)

“Bayu. Kalau nama Kamu Saya boleh tahu, Dek?” (Sambil senyum-senyum tidak jelas)

“Kan tadi sudah saya kenalkan diri saya Pak. Itu nama saya, ada di papan nama.” (Sambil nunjuk sebuah papan nama)

“Langsung saja Pak, ada yang bisa saya bantu?” (Dalam hati sudah mulai malas lihat bapak itu).

“Saya mau transfer Dek, 100 juta aja Dek, ke rekening mama saya, Romlah namanya.”

“Ini slipnya Pak, silahkan diisi.”

“Ini gimana ya Dek cara ngisinya?”

“Ok, saya bantu tulis ya Pak. Bapak, ada no rekening di sini? No nya berapa? Untuk kelengkapan data slip.”

“Ada lah Dek, 7 rekening saya di sini. Satu rekening saja kira-kira 5jutaan.” (Tangan sudah mulai bergerak ke arah tangan teller. Nggak tahu dia tellernya mengerikan. Untung saja tellernya punya kecepatan tinggi dalam menulis walau tulisannya hanya alien lah yang bakal bisa baca)

“Uangnya boleh saya hitung Pak?”

“Oh, silahkan Dek, ini uangnya..”

“Maaf Pak, uangnya dilepas saja di meja. Kan kita bisa sama-sama lihat.”

“Hehehe… Iya Dek, ini uangnya.” (Muka udah mulai mupeng)

Uangnya segera diambil si teller dengan terlebih dahulu menghitung jumlah globalnya.

“Globalnya 100 juta ya Pak. Saya hitung mesin. Silahkan diperhatikan.”

“Iya Dek…:D” (Muka tambah menunjukkan indikasi kalau Bapak ini kurang perhatian)
Sambil mesin uang, Bapak itu mengajak ngobrol.

“Dek, nanti pulang dijeput ya?”

“Dijeput Pak, ma suami saya.”

“Lo? Bukannya front liner di sini belum boleh menikah?”

Si teller hanya diam saja dengan volume mata mulai lebih besar, menjurus agak melotot, dan dengan senyum terpaksa.

Ketika blok-an terakhir, uangnya kurang tiga lembar. Si teller minta izin sama Bapak itu untuk hitung pakai tangan. Nah, sebelum hitung pakai tangan, si teller mulai bertindak kurang waras. Dia ngupil dengan tenangnya, lebih dalam, dan mengeluarkan sedikit upil, dengan mata ke arah bapak itu. Bapak itu memperhatikan teller itu. Mungkin saja Beliau jijik, spontan mundur tiga langkah ke belakang. Akhirnya dia diam saja dengan muka yang datar. Ilfil mungkin dia ya. Hohoho…

“Uangnya ternyata lengket ya Pak. Pas ini.” (Senyum si teller mengembang sambil mesin uang, ternyata uangnya memang pas. Tadi lengket).

“Uangnya cocok ya Pak, 100 juta. Ditunggu sebentar.”

Si Bapak hanya diam saja sambil agak cemberut.

“100 juta ke rekening Ibu Romlah Jaimah sudah masuk Pak. Transaksinya sudah selesai, ada lagi yang bisa saya bantu?”

Bapak itu diam dan buru-buru meninggalkan counter itu.

Medan, 021015

Ini Bukan Rindu



Ini bukan rindu...

Beberapa hari setelah kita saling kenal, aku sudah menanamkan hal itu.

Karena aku berpikir, buat apa membuang waktu untuk rasa sedih di kemudian hari,
Sama seperti dahulu.

Ini bukan rindu...

Bercermin, tersenyum, mengepalkan tangan, merasa bisa hidup layaknya sebuah pohon tunggal berakar kuat.

Ini bukan rindu...

Berulang kali kata itu terucap dan didengar oleh diri sendiri. Angkuh terdengar.

Sekali lagi, ini bukan rindu...

Sekejap hati berbisik, "jangan egois wahai diri, itu rindu, jangan bohong."

Medan, 071015

Sedikit Romantis



Tak sembarang benda bisa menembus jaring sutra Arachnid milikku tapi kau mampu masuk ke tempat bersemayam tanpa merusak yang sudah ditenun.

Layaknya intan, batuan yang keras dan susah lunak, hatiku dengan airmu yang sejuk lagi tenang, melunak perlahan.

Beberapa kali menjadikan hati ini bagai minyak dan yang mendekat sebagai air. Tanpa sadar, kini aku bermetamorfosis menjadi air.

Sayang, aku tak bisa berjanji apa-apa. Aku hanya ingin kau menggenggam tangan hangat ini ke mana saja kau berada, dan aku tidak akan bertanya.

Medan, 271015
Dewi Anggraini Sitohang

Tidak Perlu Pembuktian Hebat



Suasana di angkot hampir terisi semua tempat duduk. Di barisan tempat duduk Khumaira memang sudah penuh, tetapi di barisan depan masih tersisa dua orang lagi. Tiba di Jl. Sutomo ada seorang ibu dan anaknya yang disabilitas naik. Si ibu minta geser sedikit, anaknya kebingungan (posisi belum duduk). Khumaira memegang tangannya, takut terjatuh. Sungguh sayang, barisan yang seharusnya masih tersisa dua orang, ada seorang gadis yang tidak mau menggeser tempat duduknya, mukanya datar saja. Jadinya, si ibu mengalah. Dia memangku anaknya. Kasihan, karena usia anak tersebut sebenarnya sudah dewasa, pasti ibu itu kakinya jadi sakit. Khumaira sudah bilang dengan tegas sama gadis yang tidak mau bergeser tempat duduk itu, tapi dia sama sekali tidak menggubris. Syukurlah, bapak yang duduk di samping Khumaira turun duluan. Anak ibu itu duduk di samping Khumaira akhirnya. Sepertinya gadis itu agak takut dengan Khumaira, karena matanya yang agak tajam dan pakai masker pula. Khumaira membuka maskernya dan tersenyum sama si gadis, dia menjadi tidak takut lagi. Mereka sampai tujuan, dan si ibu tersenyum sama Khumaira.

Ibu itu berbeda etnis dengan penumpang yang lain. Tapi haruskah sebegitu membenci? Kita ini warga bumi. Bumi ini juga bukan milik kita. Sudah habiskah stok cinta di hati kita kepada makhluk bumi? Tidak perlu kok secara besar-besaran kita membuktikan cinta sesama dengan menghambur-hamburkan materi dengan publikasikan di surat kabar, televisi, dan media sosial lain kalau kita lagi bersama anak panti asuhan. Cinta itu sederhana. Buang ego yang berlebihan di diri kita. Jangan karena beda etnis dan kepercayaan kita jadi berlaku tidak adil kepada kaum lain. Cinta itu sejatinya memberi, memberi kehangatan yang ada pada diri kita dengan kadar wajar untuk warga bumi. Cinta itu sebenarnya belum hilang kok, hanya tersimpan di bank hati kita, dan kita lupa memancarkannya.

Kuntilanak Medan



A : "Neng, hujan-hujan gini kok jalan sendiri? Udah malam lagi."

B : "Tolong ya Bang, jangan panggil aku neng, Batak aku Bang, ini Medan pulak." (Sambil jalan lurus aja, tidak mau melihat ke belakang).

A : "Maaf lah Dek.. Cantik-cantik repetannya kencang kali ya."

B : "Karena belum Abang liatnya mukakku. Ntar Abang pasti lari kalok udah liat." (Tetap jalan lurus).

A : "Oya Dek, tadi belom dijawab, kenapa malam terus hujan gini jalan sendiri? Abang gak bawa payung pulak ni Dek."

B : "Abang gak nyadar dari tadi badanku gak basah walau disiram hujan?"

Abang itu terbengong.

B : "Suamiku nunggu di pohon jati di ujung sana Bang." (Sambil nunjuk ke ujung jalan).

Si abang makin bingung.

Tiba-tiba wanita itu terbang sambil melambai dan ketawa cekikikan ke si abang yang tetap bengong.

Dan akhirnya si abang pingsan.

-Selesai-

Medan, 260915

Selasa, 13 Oktober 2015

No Title



Sepertinya saya lelah…
Semangat setiap hari tidak menjamin diri ini tidak mengenal rasa lelah.

Sepertinya saya lelah…
Saya selalu nanamin ke diri, saya bisa berjalan sendiri karena orang-orang yang saya sayangi cepat atau lambat akan meninggalkan diri ini, kelak tak akan ada yang memegang tangan ini kecuali Rabb saya.

Sepertinya saya lelah…
Namun tugas saya belum selesai.
Hutang-hutang kepada Allah belum lunas..
Diri ini belum sepenuhnya menjadi manusia bermanfaat,
Tangan hangat saya akan sia-sia jika orang-orang yang sayangi tidak merasakannya,
Masih sedikit senyum yang saya luki di wajah mereka, keluarga saya.

#harusSemangat
#masihAdaAllah

Selasa, 22 September 2015

Lihat segalanya lebih dekat... Dan kau bisa menilai lebih bijaksana...

Tahun 2010 tulisan ini dibuat, terinspirasi dari seorang dosen saya.




"Lihat segalanya lebih dekat... Dan kau bisa menilai lebih bijaksana..."

Kalimat di atas adalah sepenggal lirik dari ost. Petualangan Sherina..

Tokoh utama saat ini adalah Laras dan Prof. Hardinawati..

Prof. Hardinawati, atau biasa dipanggil dgn Bu Dina atau Prof. Dina adalah seorang ketua jurusan merangkap dosen sebuah Departemen di salah satu kampus terkemuka yg terdapat di Kota Biru. Sehari2 Bu Dina dikenal sebagai seseorang yg lumayan otoriter. Ga jarang mahasiswa yg merasa "dag dig dug" ketika akan bertemu beliau. Sudah menjadi rahasia umum, banyak mahasiswa yg tidak senang dengan Bu Dina. Hmmm... Laras, salah seorang mahasiswa di Fakultas tersebut awalnya juga "b'pikiran-klu-ibu-ini-kayak-monster". Seiring dengan berjalannya waktu, opini Laras terhadap Bu Dina berubah drastis. Ketika itu Laras baru saja seminar proposal, tp swaktu seminar Bu Dina tidak hadir, kira2 dua minggu kemudian, baru lah dia menjumpai Bu Dina untuk meminta tanda tangan, padahal itu sudah kelamaan, seharusnya Laras menjumpai Bu Dina sehari atau setidaknya tiga hari sesudah seminar proposal (dengan catatan: Bu Dina tidak hadir ketika hari H). Hari itu, Bu Dina baru aja marah2 besar. Laras juga kurang begitu tau kenapa Bu Dina marah2 gitu. Setelah marah2, Bu Dina beranjak pergi dari kantor jurusan, padahal Laras belum dapat tanda tangan Bu Dina. Biasanya kalau lg marah2 gitu, urusan kita dengan Bu Dina kurang berjalan mulus. Bisa2 kita kena "semprot" ma Bu Dina. Hmm.. Dengan langkah yg nekat, Laras berjalan mengikuti langkah Bu Dina keluar kantor jurusan. Dina terus mengikuti... Bu Dina sadar sedang diikuti mahasiswanya.

(Tak disangka tak diduga, Bu Dina manggil Laras kemudian memegang pundaknya, "seolah-olah ungkapan sayang kepada seorang anak")

Bu Dina: "Ada keperluan apa Ananda?"
Laras: "Tadinya saya mau minta tanda tangan Ibu untuk absen seminar proposal saya kemarin... Tapi, sepertinya Ibu sedang sibuk ya?"
Bu Dina: "Mana, coba sini saya liat proposal skripsinya.. (Sambil melihat cover) Hmm.. ini sudah ananda priksa kan? Ga usah saya priksa lagi ya... Langsung aja saya tanda tangan.. (Sambil b'pikir) Tp.. Kenapa kok lama kali baru minta tanda tangan saya..?"
Laras: "Saya sakit Bu..." (Memang benar ya Laras sakit..)
Bu Dina: (sambil menandatangani) Oh, pakai surat dokter aja... Ananda ga usah kuliah dulu.."
Laras: "Sekarang saya sudah sembuh kok Bu.. Lagian saya ga ada mata kuliah lagi.."
Bu Dina: "Ok lah ananda... istirahat yang cukup ya... Skripsinya pelan2 saja ngerjainnya..." (Sambil tersenyum).
Laras: (Terharu, tapi ga berani nangis. Tapi, seketika itu juga opini Laras berubah terhadap Bu Dina. Tiba2 Laras jadi sayang sama Bu Dina. Pendapat2 orang tentang Bu Dina yg jelek2... = Laras ogah ah terlalu nanggepinnya.. Hmmm.. wlu terkadang Laras juga kesal ma tingkah Bu Dina. He5)

Di dunia ini ga ada satu pun ciptaaan Allah yg sempurna karena kesempurnaan hanya milik Allah semata. Kita ga boleh menilai orang hanya dari cover luarnya aja. Seseorang yg kelihatan baik, belum tentu dia sepenuhnya baik. Sebaliknya, seseorang yg kelihatan pemarah, judes, jutek atau apalah namanya, belum tentu dia sejelek yg kita kira. Terkadang kita, manusia, hanya bisa "mengkambing-hitamkan" keadaan d satu situasi yg membuat kita terpuruk. Dunia tempat kita berpijak ini cukup luas... Jadi, mari lah kita manusia sama2 saling memahami satu sama lain, tanpa ada pikiran negatif terhadap sesuatu itu. Waspada boleh saja kita lakukan, asal tidak berlebihan. Menyikapi perbedaan dengan lebih arif akan membawa kita pada kedamaian yg mungkin saja saat ini sudah "langka". Kalau kita berharap mencari orang yang sempurna, maka selamanya kita ga akan punya teman. Saya bukan lah seseorang yang sempurna, tetapi saya akan berusaha hari demi hari meminimalisir sikap2 jelek yg terdapat di dalam diri sendiri. Teman2 juga bisa kan melakukannya???

Maafkanlah semua kesalahan saya ya teman2 kalau ada khilaf..:)

(^_^)

Air dan Api (No body's perfect)

Tulisan ini dibuat sekitar tahun 2010..




"No body's perfect"

Istilah di atas sering dibilang oleh orang. Saya pribadi, setuju dengan istilah itu. Memang siy.. ga da yg sempurna, kecuali Allah.. Tapi, segelintir orang menggunakan dalil "No body's perfect" untuk menyakiti orang lain.

Di bawah ini ada sebuah cerita..

Seorang mahasiswa, sebut aja Laras yg mempunyai sahabat bernama Agnes. Mereka berteman sejak pertama kali kuliah di Diploma.. Persahabatan mereka berlanjut ke ekstensi... Di ekstensi, mereka memang berkenalan dengan banyak orang baru, tapi, saat ini yg saya fokuskan hanya pada 2 orang saja. Laras dan Agnes kenalan dengan 2 orang cew, Hana dan Lulu. Hana dan Lulu berteman cukup dekat (menurut definisi Laras ketika itu). Awal pertemanan mereka baik-baik saja. Bahkan Laras ga jarang jalan2 dengan Hana dan Lulu, saat itu Laras jd jarang jalan2 dengan Agnes, karena Agnes sudah bekerja. Seiring berjalan waktu, Laras sering mendengar cerita "ga baik" tentang Hana dari Lulu. Ga gitu lama, Laras bermasalah dengan Lulu. Masalah mereka hanya salah paham menurut Laras. Hmm.. tp, Laras mendengar cerita "kurang menyenangkan" tentang dia yg mungkin sudah sampai ke telinga sahabatnya Agnes, hal itu disampaikan oleh Lulu. Huhhfft!! Laras bersyukur, karena Agnes bukan tipe orang yg gampang percaya dengan "hasutan" orang lain. Laras dan Agnes sudah berteman jauh sebelum mereka kenal dengan Lulu, jd sudah tau kebaikan dan keburukan masing2. Selain itu Laras juga tetap berteman baik dengan Hana. Lambat laun, Laras berteman lg dengan Lulu. Laras berpikir, setiap orang pasti punya salah, jd klu mau berubah jd baik, ga ada salahnya kan. Toh, Laras juga ga merasa dirinya sempurna. Tapi.... Lulu jg ga berubah. Lulu sering cerita "jelek" tentang Agnes ke Laras. Bukan itu saja... Lulu juga ikut "menegatifkan" perilaku Hana. Wahhhh... Syukurnya, Laras ga mudah terpengaruh dengan segala "rayuan negatif" dari Lulu. Laras ga mau terjerumus ke lembah "penuh kekosongan ga ada teman". Satu hal yg pasti, Laras ga dendam dengan Lulu. Dalam hati Laras, semoga Lulu bisa berubah suatu hari nanti. Laras juga ga mau bersumpah untuk ga mau berteman lg dengan dia. Bukannya sok baik..., tp jelas aja Laras ga mau takabbur.. "Jangan pernah membanting pintu, siapa tau kita harus kembali".

Dari cerita di atas kita bisa ambil hikmah.. Memang siy... ga da manusia yg sempurna d dunia ini.. Tapi, kita ga boleh menjadikan "istilah" itu untuk berusaha nyakitin orang lain.. Apalagi kalau kita pernah berhubungan baik dengan orang itu.. Dalam setiap hubungan itu pasti ada masalah.. Masalah yg sudah terlanjur ada, jangan diumpetin, ato malah digembar-gemborkan ke org yg tdk bersangkutan (yg ada malah timbul fitnah), tp sbaiknya dibicarain dengan org yg b'sangkutan langsung. Kalau dia tidak suka dengan crita kita ato crita tentang "keburukan kita yg dilebih2kan" udah terlanjur tersebar, ya udah.. ga usah ambil pusing.. Kita jalani aja "jalan" kita, dan dia jalani "jalan" dia.. Hidup ini cuman bentar, jd dibawa "asyik" aja, asal kita tetap berada pada koridor kodrat kita sebagai makhluk Allah. Yakin aja, apa yg kita tanam, itu yg kita tuai..:)

"Mengapa kita saling membenci?
Awalnya kita saling memberi
Apa tak mungkin hati yang murni sudah cukup berarti?
Ataukah kita belum mencoba memberi waktu pada logika?
Jangan seperti selama ini, hidup bagaikan air dan api."
(By. Naif)

Hanya mampu menjadi sebatang lilin… The Right Moment In The Right Time… ;)

Ini dia tulisan waktu zaman lebay-lebaynya aku.. Ditulis sekitar tahun 2010.



Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 12.20 dini hari, tapi dewi belum bisa tidur, jadi ketimbang ngayal yang aneh-aneh, mendingan dewi ngetik cerita tentang Laras aja ya…
catatan: Laras itu tokoh fiktif aja kok..;)

*Impian Laras Sejak Usia 20 Tahun*

Aku Laras…

Suatu saat seorang “pangeran berkuda putih” akan datang menjemputku.
Tahukah kalian…

Aku akan mengatakan pada pangeran tersebut bahwa aku hanya mampu menjadi sebatang lilin bagi dia, bukan matahari.

Matahari mempunyai cahaya yang permanen dan abadi untuk menyinari bumi sampai sangkakala ditiup oleh Malaikat Isrofil. Sedangkan sebatang lilin, cahaya yang diberikannya tidak abadi. Dia tidak memerlukan waktu sampai kiamat untuk redup, cahayanya bisa muncul kembali jika si pemilik mengumpulkan kerak lilin yang mencair kemudian menancapkan kembali sumbu tersebut di kumpulan kerak lilin tersebut, begitu seterusnya.

Siti Nurhaliza dan Afgan mengatakan, Cintaku bukan cinta biasa… Lain halnya dengan aku. Aku hanya bisa menawarkan “cinta yang biasa” kepada pangeranku kelak. Karena aku sangat sadar kalau aku hanyalah karya Sang Maha Pencipta yang hatinya bisa terbolak-balik menurut kehendak-Nya.

Aku tidak mau mengumbar janji akan membahagiakan dia seutuhnya (total) karena kebahagiaan itu sebenarnya sudah ada di dalam hati manusia masing-masing, terkadang dia tidur, terkadang dia bangun, tinggal bagaimana manusia tersebut menginterpretasikan kondisi yang terjadi di tiap lembar kehidupannya. Salah satu kunci bahagia itu, tetapi memiliki poin yang cukup besar adalah ikhlas. Dia ikhlas menerimaku sebagai pasangan hidupnya, otomatis bagaimana pun kondisi kehidupan kami dia tetap merasakan kebahagiaan itu, walau kebahagiaan tersebut akan terlihat seperti grafik tingkat pertumbuhan pendapatan masyarakat (naik turun).

Cintaku memang hanyalah cinta yang sederhana, tetapi…
Sama seperti lilin, di ruangan yang gelap, cahayanya akan terasa begitu istimewa. Aku akan selalu menemaninya di sisa hidupnya walau di suatu keadaan seluruh manusia di dunia ini memusuhinya. Mungkin aku tidak bisa menciptakan tawa di wajahnya ketika dia sedang bersedih dan menangis, tetapi aku akan menghapus air matanya dengan kedua tangan kecil yang kumiliki, aku akan mendengar semua cerita dia, walau aku mungkin tidak paham seutuhnya tentang kesedihan yang dialaminya. Mungkin aku tidak mampu melakukan apa yang mampu dilakukannya, kami memiliki “dunia yang berbeda”, tetapi aku akan melengkapi sisa-sisa hal-hal yang tidak mampu dilakukannya, seperti jumlah abjad, misal dia melakukan A-N, aku melakukan O-Z, karena aku menyadari hidup ini adalah saling melengkapi bukan saling menandingi.
+++++++ (tambahan cerita. hehe..)

Hmmm… kalau yang ini siy ga wajib2 kali.. Mungkin Laras akan sedih jika pangeran Laras kelak benci atau tidak suka dengan kucing, Laras says, “because I love the cats so much”. Laras memang ga punya kucing peliharaan, tetapi kucing-kucing yang datang ke rumahnya akan diberi makan seadanya. Semua kucing diperlakukan sama oleh Laras (walau kucing kurapan sekali pun), setiap Laras melihat kucing (walau ga selalu, di tempat keramaian ya Laras ga mau manggil2 kucing, ntar disangka orang kurang waras), Laras akan memanggil kucing itu dengan sebutan, “Puuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuss..”. Satu lagi, Laras mempunyai impian untuk ke Jerman suatu hari, maunya siy dengan pangerannya, tetapi sendiri ya gak apa2 lah… Pada umumnya, orang2 berpendapat, Paris adalah kota yang romantis dan indah, hmm, Laras bilang, kota2 di Jerman lah yang romantis dan ga kalah indahnya dengan Paris. Pokoke: “Jerman… I’m coming”.
Saat ini, Laras belum bertemu dengan pangeran sejatinya. Tetapi dia percaya. Soon or later, pangerannya akan datang menjemputnya, walau ga pake kuda. Ooooo...
Sekian dulu cerita tentang Laras.

(note)
Pada suatu saat kita akan dihadapi dengan seseorang yang kita sangka dia adalah “pangeran” atau "permaisuri" kita, tetapi tiba-tiba dia menghilang dari kehidupan kita disaat kita belum memiliki persiapan, lalu apa yang harus kita lakukan??? Kita ga boleh larut… karena kita bertemu dengan orang yang salah dulu baru bertemu dengan orang yang benar buat kita. Kalau ga ada orang yang memotivasi kita di saat kita terpuruk, ya kita harus bangkit sendiri. Hidup ini seperti buku, terdiri dari berlembar2 cerita, kita adalah tokoh utama dalam kehidupan kita masing-masing, jadi siap atau ga siap kita harus sabar melewati lembar demi lembar kehidupan kita. Semua akan terjadi sesuai dengan porsinya masing-masing di waktu yang tepat. The right moment in the right time..;)
Jam sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Dewi udah ngantuk...
Werde mich hinlegen..
Guten Abend..:)

(^_^)

Senin, 08 Juni 2015

Cinta

Sebagai manusia kita berhak menerima cinta dari manusia atau makhluk lain yang menjadi harapan kita. Tetapi sebenarnya bukan itu hakikat cinta. Kalau  antarmanusia, hakikat cinta itu adalah memberi, bukan menerima. Allah menitipkan rasa di hati kita supaya kita bisa menabur dan mengaplikasikannya kepada semua makhluk di bumi. Hanya memberi dan memberi. Jangan takut tidak berbalas. Seperti cinta orang tua kepada anak, saudara, pasangan, sahabat, atau hewan kesayangan. Mereka juga mendapat peran dari Allah untuk memberi cinta itu, bisa kepada kita, bisa juga kepada yang lain. Jangan takut kalau orang itu pergi dari kehidupan kita karena cintanya tidak ikut pergi, dia mencintai kita di tempat yang lain dengan cara yang lebih indah. Jangan takut, dari Allah lah sesungguhnya kita menerima cinta itu, hapuslah air mata yang ada di hati.

-Dewi Anggraini Sitohang-

Minggu, 31 Mei 2015

Berdamai dengan Harimau Kehidupan

# Lingkungan kita adalah "Kasta Sudra"
Saya, Kamu, Anda, Dia, Mereka, terkadang ingin mengambil hati orang-orang yang lebih tinggi dari kita dengan memuji dan melakukan hal-hal yang membuat senang orang-orang itu (seperti memakai topeng). X_X

# Lingkungan kita adalah "Kasta Brahmana"
Saya, Kamu, Anda, Dia, Mereka terkadang sadar atau tidak mengganggap kita segala-galanya lebih hebat daripada orang-orang di bawah kita. Kalau irang-orang itu berbuat kesalahan sedikit saja, seolah-olah itu kelihatan besar di mata kita. Sadar atau tidak, terkadang keluar dari mulut kita kata-kata yang membuat orang-orang itu sakit hati. Menurut kita kata-kata itu hanya candaan belaka saja, biasa saja menurut kita, tetapi halooo... Tidak semua orang memiliki hati seperti kita. Hati setiap orang itu beda. Itu pasti. Setelah kita mengucapkan kata-kata yang menurut kita hanya candaan saja, walau kita pernah berbuat baik sama orang-orang itu, orang-orang jadi bingung anggap kita. O:) (peri baik) atau >=) (peri jahat/setan) >> :s

Kasta apa pun itu, ini semua tentang salah satu alat di tubuh kita = mulut. Mulutmu harimaumu. Kita memang perlu menjaga lisan walau di dalam lingkungan kita adalah golongan kasta brahmana. Cobalah bercermin melalui hati nurani kita sebagai makhluk yang dianugerahi hati dan akal. Apabila di lingkungan kita adalah golongan kasta sudranya, ada baiknya kita berdamai dengan harimau kehidupan. Secara kasat mata mungkin kita kecil dari mereka. Tapi manusia dari atas sampai bawah tidak semuanya bagus dan tidak semuanya buruk. Kita pasti memiliki potensi yang mereka tidak memiliki. Dendam sama mereka? >:O. Kayaknya janganlah... Ngapain coba menahan amarah di hati. Yang ada kita bisa sakit, lalu cepat keriput. :)

Ini bukan hanya tentang saya.
Ini tentang kamu, dia dan mereka.
Ini tentang kita semua yang memiliki ego di dalam setiap diri kita masing-masing.
Ini tentang kita yang masih perlu banyak belajar membuat "balance" ego kita.

Peace... :D

-Dewi Anggraini Sitohang-

Kamis, 28 Mei 2015

Tidak Ada Yang Menjadi "Sampah", karena Kita adalah Tokoh Utama di Kehidupan Sendiri

Tokoh utama. Itu adalah kita sendiri di kehidupan kita. Siapa pun itu, walau orang-orang terdekat sekalipun, seperti orang tua, saudara kandung, saudara lain, sahabat, teman ata orang yang sekedar "numpang lewat" di hari-hari kita, tetap saja kita yang jadi tokoh utama kehidupan kita. Lantas, setelah menjadia tokoh utama, apakah kita harus menajdikan semua atau sebagian orang itu seperti apa yang ada di pikiran kita? Tentu saja tidak karena kita cuma tokoh utama, bukan sutradara atau produser.

Belajar... Belajar... dan terus belajar untuk menjadi tokoh utama yang bisa beradaptasi buat kehidupan fana sebagai modal untuk kehidupan abadi kelak.

Dalam hidup, terkadang dihadapkan pada situasi pertemuan dengan tokoh lain yang membuat dada ini sesak, bahkan tidak jarang mengatakan diri sendiri sampah, mungkin dihantui oleh perasaan bersalah atau apalah namanya.

Ketahuilah, seburuk apa pun diri ini di mata diri sendiri atau orang lain, kita adalah tokoh utama dalam kehidupan kita walau tidak memiliki andil untuk menggerakkan takdir sendiri, setidaknya masih boleh memilih dalam bersikap dan memiliki pandangan.

Kalau sudah terlanjur berbuat sesuatu yang menjurus ke hal negatif, jangan terlalu takut dan jangan terlalu menyalahkan diri sendiri, yang penting, tahu kalau itu salah dan menjadikan sebagai pembelajaran untuk tidak melakukannya di kehidupan selanjutnya.

Jangan menyalahkan takdir, seburuk apa pun itu. Bahkan kalau pun sudah dihadapi dengan penolakan hebat dari seorang tokoh sekali pun. "Allah Maha Kaya. Bila satu orang manusia-Nya mengabaikanmu hari ini, yakin saja, esok hari akan hadir lebih dari satu orang manusia-Nya menghargai dan turut mengistimewakan keberadaanmu. Think easy and forgive.." (DMR)

Tidak ada yang salah dengan pertemuan dan perkenalan dengan seseorang walau melalui "kacamata" kita dia sudah bertindak negatif terhadap kita. Semua itu sudah diatur Allah dan sudah harus terjadi di episode kehidupan ini. Belum tentu kita benar melalui "kacamata" dia. Kita dan dia memang mempunyai hak untuk mengeluarkan pendapat apa pun terhadap kondisi sesuatu. Apa pun itu, hal yang semua terjadi adalah pembelajaran buat kita dan dia.

-Dewi Anggraini Sitohang-

Tidak Perlu Kalkulasi

Salah hitung...
Jika Anda berharap setiap memasukkan uang ke dalam amplop buat resepsi undangan seperti nikah ataupun khitanan, bahwa uang tersebut akan kembali kepada Anda, lebih parahnya Anda berharap dari orang yang sama.

Salah hitung...
Jika orang tua sangat berharap kalau saat ini merawat dan membesarkan anaknya, kelak anaknya bisa berbakti lebih kepadanya.

Salah hitung...
Jika kita memberi pengemis, lalu kita berharap bahwa mereka, minimal akan mengucapkan terima kasih kepada Anda.

Salah hitung...
Jika seorang guru mendidik muridnya, lalu berharap bahwa kelak muridnya bisa membantu manakala dia dalam kesulitan.

Salah hitung...
Jika Anda pimpinan, jangan menyesal apabila setelah memotivasi, membimbing, dan mengarahkan anak buah Anda supaya mereka maju dan berkembang, dan ternyata... mereka lebih maju dan berkembang, bahkan menjadi pesaing Anda di kemudian hari.

Kenapa jangan dihitung oleh kita?

Yakinlah, setiap kita berbuat baik maka Yang Maha Kuasa akan memberikan balasan kebaikan jauh dari prakiraan dan harapan kita. Perhatikan pantulan dari gua atau tebing, ketika Anda berteriak memanggil nama seseorang akan memantul dengan pantulan yang sama dan lebih banyak.

Anda memanggil "Dewi" maka akan mematul suara, " Dewi... Dewi... Dewi... Wi... Wi... Wi..." Dan tidak berubah, misal Anda memanggil "Dewi", lalu memantul "Raihan... Raihan... Raihan... Han... Han... Han..."

Jadi, teruslah memberi yang terbaik dan jangan dihitung karena Tuhan tidak pernah lengah memperhitungkan amal dan perbuatan kita. Kalkulator Sang Maha Cinta, Maha Canggih looo...!!!


Sumber:
Saya lupa tulisan ini diambil dari mana, tapi sudah saya modifikasi sedikit di beberapa bagian

Tentang Hujan... Tentang Dia...

Hujan...
Satu fenomena alam yang sangat aku suka.
Dahulu aku tidak sadar kenapa aku menyukainya.
Belakangan aku baru tahu.
Ternyata di gabungan rintik-rintik hujan aku bisa mendengar suara dia.
Dan kalau keluar ruangan, bisa merasakan harum dia.
Dia yang dulu rajin ada di mimpiku jauh sebelum aku mengenalnya.
Akankah dia sama seperti hujan?
Dia akan segera pergi,
Bahkan sudah pergi sebelum dia datang.
Akankah dia kembali lagi setelah dia pergi?

-Dewi Anggraini Sitohang-