Kamis, 01 September 2016

GELAP KAN SIRNA

Lagu Chirsye di bawah ini adalah salah satu lagu favorit saya.

***

GELAP KAN SIRNA

Satu masa
Lewat berganti
Diputar detik
Detak ku berhenti
Tiba tuk menyepi
Sendiri ku bermimpi

Luka hati
Bagai ada duri
Beragam coba
Ingin kututupi
Mataku mengabut
Teteskan kerinduan

Kasih bayangan sedih perlahan pupus jua
Badai gelap, kini sinarkan cahaya wooh
Sayup sepi percikan rasa damai
Pintu hati kini kubuka tuk jelang esok

Pijar api barakan dendamku
Getaran cinta, padamkan kembali
Namamu menyusup
Bisikan lirikku menggapaimu

Senin, 16 Mei 2016

...



Baru saja menyelesaikan tiga suap, wajah ayah mulai memerah. Sesekali meneguk air putih agar makanan di mulut cepat ditelan. Tibalah suapan terakhir, langsung meneguk satu gelas air secara perlahan. Dengan nada lembut, ayah berkata,
"Sarah, lain kali jangan beli mie instan merek ini, ya. Ayah lebih suka merek Star."
"Nggak enak ya, Ayah?" Sambil bertanya dahi Sarah mengernyit.
"Enak, kok. Tapi Ayah lebih suka yang merek Star," ujar ayah sambil tersenyum.
Dalam hati, Sarah mengerti maksud ayah. Ayah tidak suka sama mie instan yang sedang jadi bahan perbincangan teman-temannya di Instagram. Hanya saja, beliau tidak mau mengatakannya langsung. Lelaki bermata tajam itu tidak mau "menjatuhkan" semangat anak sulungnya yang membeli kemudian masak mie itu dengan semangat.
Medan, 250416

Rabu, 11 Mei 2016

....

Terik sang surya telah tiba.
Dada ini bergemuruh.
Bibirpun ikut kebas.
Aku telah membayangkan,
Akan segera menemui,
Dan juga kawan-kawannya.
Kaki ini melangkah dengan cepat,
Ke tempat dirimu berada.
Hah, hatiku patah!
Begitu aku membuka rumahmu,
Kau dan teman-temanmu tidak ada.
Berkeping-keping hati ini hancur.
Tapi tidak sampai meneteskan air mata,
Karena bercampur dengan gelak tawa.
Geli aku!
Kini aku tak bisa meminummu lagi,
Pada jam makan siang.
Kopi dan susu telah raib di lemari.


Medan, 101215

...

Bayangan itu kembali muncul malam ini.
Dada ini terasa sesak.
Tapi air mata tidak ikut muncul.
Lima tahun yang lalu
Aku kembali menyapanya
Setelah sekian lama
Aku tidak bersamanya.
Tepat lima tahun sudah,
Kebersamaan kami.
Sering ikut ke manapun aku pergi.
Aku simpan dia di dalam tas.
Dan kalau sedikit lapar,
Aku memakannya.
Bengbeng,
Gara-gara kamu, Sayang,
Terpaksa aku sikat gigi dua kali malam ini.


 Medan, 051215

Senin, 09 Mei 2016

Demi Sebotol Air Mineral

Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.

***

“Koran-koran… Koran-koran…” Suara ibu penjual Koran terdengar melengking. Sebenarnya aku tidak membutuhkan koran itu, karena di kantorpun bisa baca koran gratis, tapi tidak ada salahnya membeli.
Sambil membuka kaca mobil dan mengeluarkan uang, “Satu ya, Bu.”

“Alhamdulillah… Makasih ya, Nak.” Sambil menyodorkan korannya.

Tiba di depan kantor terlihat pemulung sedang membersihkan botol air mineral bekas pakai air comberan. Badan kurus, baju lusuh, dan umur kira-kira 40 tahunan. Aku mendekatinya dan memberi sepotong roti dan air mineral. Dia menerimanya sambil tersenyum dan menunduk.

Di depan pintu masuk setelah absen (finger scan) langsung naik taksi lagi menuju sebuah hotel, ada sosialisasi tentang pekerjaan. Selama acara berlangsung kami disediain makanan ringan dan beberapa botol air mineral. Ada yang menghabiskan air mineralnya, ada juga yang menyisakannya, bahkan lebih banyak yang menyisakannya. Setelah acara selesai, kami segera menuju pintu keluar, ketika melihat ke belakang sekilas, tidak sengaja aku melihat beberapa botol air mineral yang bersisa. Hmmm, miris. Mubazir.

Sebelum kembali ke kantor, jajan dulu di belakang bangunan hotel. Aku memang suka jajan di pinggir jalan. Kebiasaan yang nggak bisa diubah sejak kecil. Baru sesuap mie, didatangi seorang gadis kecil (kira-kira umurnya lima tahun), membuka jilbabnya, lalu menawarkannya untuk aku beli.

“Tolong beli, Kak.. Rp.3000 saja.”

Keadaan jilbab itu sudah sangat lusuh, mengeluarkan aroma tidak sedap, bahkan sudah tidak layak lagi dipakai.

“Pakai saja kembali, Dik jilbabnya.” Sambil memakaikannya lagi ke kepala dia.

Dia kembali melepasnya. “Tolong Kak, aku sangat butuh Rp. 3000 itu. Belilah jilbab ini..”

“Ok lah.. Aku akan membelinya. Ini. Aku memberikan selembaran uang Rp. 10.000. Kembalinya untukmu saja, Dik.”

“Jangan begitu Kak.. Aku mohon bayarlah dengan uang pas. Aku tidak ingin mengharapkan lebih seperti ini.”

Karena dia terus memaksa, aku langsung mengeluarkan tiga lembar uang Rp. 1000. “Ini Dik.”

“Makasih ya, Kak.” Senyumnya mengembang dengan manis.

Penasaran dengan gadis kecil itu, mengikuti dia dari belakang. Dia membeli satu botol air mineral. Terus mengikutinya, tibalah di lorong agak sempit. Tempat itu kurang bersih. Ada sedikit tumpukan sampah. Di situ aku melihat seorang wanita yang tidak begitu tua, tapi badannya sangat kurus dan tubuhnya sangat kotor.

“Emak… Ini diminum dulu.” Gadis kecil itu menyodorkan air mineral itu ke mulut ibu itu. Ibu itu hanya tersenyum. Terdengar lirihan hamdalah yang keluar dari bibirnya.

“Ini, Lili harus minum juga.” Sang ibu memberi sisa air mineral kepada gadis kecil itu.

“Lili minumnya dikit aja kok, Mak. Alhamdulillah ya Mak.. Tapi Mak, jilbab kesayangan Lili udah dijual. Nantik Lili cari kerja ya Mak..”

Sang ibu hanya memeluknya. Aku terpaku tidak jauh di hadapan mereka. Selama ini menyangka sering menebar kehangatan kepada banyak makhluk. Akulah peri itu, orang lain lah yang membutuhkanku. Begitu sombong. Ternyata diri inilah yang butuh kehangatan itu. Diri ini hanya seorang hamba yang selalu butuh kehangatan-Nya. Aku terduduk lemas di tanah, bulir air mata satu per satu jatuh tanpa bisa dibendung, makin lama makin deras. Tidak sadar, sekarang aku sudah berada di dalam pelukan gadis kecil itu. Dia memelukku dengan sangat erat.

-Selesai-

Medan, 041115

Senin, 18 April 2016

Kesasar

A: "Bolehkah saya mengenalmu lebih jauh?"

B: "Apakah kamu siap untuk kesasar di kehidupan saya?"


A: (Terdiam dan berpikir) Insya Allah, Saya siap!

Kita boleh saja berpikir sekeras apapun untuk hidup dengan seseorang. Tapi kita harus siap-siap untuk kehilangan dia lebih cepat daripada kita tidak bergerak dengan segera. Bukan berarti kita harus terburu-buru, karena jelas tidak baik. Harus dalam keadaan "balance", tidak terburu-buru dan tidak terlalu banyak pertimbangan.

Iseng

*Mengobrol dengan wanita yang kelewat peduli dengan penampilan*

Percakapan 1

A: "Mukamu kayak lenong aja, ketebalan itu make-upnya."
B: "Hehe.."


(Padahal cuma pakai lipstik)

Percakapan 2

A: "Itu muka kok polos amat.. Dipoles dikit napa."

B: "Iyaaaa..😁"

Percakapan 3

A: "Itu kok penuh jerawat mukanya. Perawatan dong kayak Aku.."

B: "Makasih ya sarannya.😘"

Percakapan 4

A: "Wah, mukanya kinclong amat. Pakai apa, Neng?"

B: "Pakai 360.😊"

(Jawab santai, padahal lagi ngobrol langsung.)

😂😁😂

Medan, 020116

Jangan

Jangan kau kecam nasib yang seakan tak berpihak kepadamu, alirannya masih semu, siapa yang tahu di depan sana kau menemukan intan.

Jangan kau kambinghitamkan uang atau harta, seakan hal itulah yang kau sebut api pemicu sehingga kau bawa sesama warga bumi bahkan saudara sedarahmu ke ring tinju kehidupan. 

Jangan murka jika kasih sayang ibu bapakmu tak terbagi rata di antara kalian karena yang memiliki sifat Maha Adil hanya Dia.

Hapus air mata, tegakkan kepalamu, memandang lembutlah kepada semua makhluk. Sebarkan cinta yang dimiliki. Kalau makhluk di bumi enggan cintaimu, tenang saja, masih ada makhluk di langit.

Medan, 020116

Trauma

Tanganku dengan sigap mencari sesuatu dalam tas, senjata kecil seperti peniti atau pensil runcing. Aku takut. Masih terasa aroma perampokan 10 tahun silam. Dua mata ini liar melancarkan pandangan ke sekeliling halaman depan The Valley, Dago. Seketika pandangan ini beradu dengan seorang pemuda yang duduk di sebuah motor putih. Dia memanggilku, aku terbodoh, entah masih menari di ingatan bayangan hitam tadi atau tersihir dengan sorot mata pemuda itu. 

#sebuahFiksi

Medan, 030116

Untuk Calon Pasanganku Nanti...

Untuk Calon Pasanganku Nanti..

(Pakai Dialek Medan)

Adek bukan wanita baik, Bang. Masih banyak minus di sana-sini. Cerita tentang memantaskan diri, kurang ngertinya adek itu, Bang. Tau adek ya, setiap saat belajar ini itu, karena sadar kalau diri ini masih jauh dari cerdas.

Tentang keshalihan, sungguh diri adek ini bukan wanita yang shalihah, Bang, jadi adek nggak berani nuntut ke Allah punya suami yang tiada dua keshalihannya. Biarlah nanti kita sama-sama belajar untuk lebih mengenal Tuhan kita ya, Bang. Jangan sampai kita gini-gini aja, karena adek nggak mau keturunan kita kelak masih bodoh aja kayak adek sekarang. Tak bisa dipungkiri, keturunan itu cerminan orang tuanya.

Aku setengah darimu dan kamu setengah dariku, setengah tambah setengah jadi satu, tugas kita adalah saling melengkapi dan saling mengisi kekurangan satu sama lain, bukan saling menuntut.

Oh ya, taunya Abang, adek tidak begitu suka pakai make-up, tapi nggak suka pulak adek jorok, bauk, dan berantakan pakaian dan badan ini.

Terakhir ya, adek nggak cantik, tapi Insya Allah, Abang laki-laki pertama yang mendapatkan, yang nggak pernah adek kasih ke laki-laki lain.

Udah dulu ya, Bang. Udah sipit mata ini, ngantuk. 😁😁

Medan, 190116

Alam dan Mawar

Sepasang teman kuliah yang sudah lama tidak komunikasi, tidak sengaja bertemu di pusat perbelanjaan.

Alam: "Hey, War, tambah manis aja. Pa kabar, Bro?"

Mawar: "Bagus sikit cakapmu itu, udah dandan feminin gini, dipanggil Bro pulak. Asemlah.. Macam betol aja, Kau." 

Alam: "Maaf lah.. Yang cepatanlah marahnya itu. Tadi Aku malu bilangnya, Mawar best Aku sejak lama ni makin manis aja. Manisanpun kalah dibuatnya."

Mawar terdiam sambil tersenyum malu-malu. Alam juga terdiam sambil memandang Mawar. Beberapa menit mereka diam sambil senyum-senyum tidak jelas.

Beberapa menit kemudian..

Alam: "War, minta pin BB lah.. Boleh?"

Mawar niat mau mengetes Alam, jadi dia jawab sebaliknya.

Mawar: "Boleh.. Tapi bukan pin BB, pin ATM. Mau, Lam?"

Alam: "Ah, yang benar? Sekalian lah kartunya, ya."

Mawar pikir Alam bercanda.

Mawar: "Benar. Ini ATM nya, pinnya 987654." (Mawar merogoh dompet, memberi ATM ke Alam dan menyebutkan pin)

Alam: "Makasih Mawar. Tau aja bestnya ini lagi bokek. Kebetulan nanti mau kencan sama Badu."

Mawar: "Hah???"

Alam: "Sssttt, jangan bilang-bilang ya, udah 2 tahun Aku nggak suka sama cewek. Udah ya, Aku cabut dulu. Bye Mawar.."

Mawar terdiam. Bingung sebenarnya siapa yang bodoh, dia, Alam atau penulis cerita ini??

😂😁😄

‪#‎cumaFiksiYa‬

Medan, 200116

Sebuah Telaga

Sebuah telaga. Di situlah aku melihat banyak hal tentang masa lalu. Saat terlihat hal pahit, sendi-sendi ini sakit semua. Langsung saja kuobok-obok air di telaga itu, seketika kudapati kenangan manis, tentang perjuangan sampai pada titik ini sehingga bibir ini menyunggingkan sebuah senyuman. 

Telaga ini hanya mampu menyajikan masa laluku. Dia hanya sebuah tontonan yang tidak boleh melunturkan semangat yang tersisa.

Saat ini, kubiarkan Tuhanku menuntun ke arah mana harus melangkah tanpa terpaku menatap sang telaga.

Medan, 260116

Tikus Got



Alhamdulillah, hanya bersisa dua koran yang tidak laku, jadi tidak terlambat pergi ke sekolah. Hah, tapak sepatu yang baru dijahit pakai tali plastik semalam, hilang. Kemungkinan dilarikan tikus got. Tidak apa-apa, hari ini biarlah bertelanjang kaki. Pernah ditanya seorang kakak,

"Cita-citamu apa, Dek?"

"Aku hanya tidak ingin jadi "pencuri", Kak."

"Seperti pencopet di jalan itu, ya?"

"Bukan. Aku tidak ingin mengemis ke orang banyak seperti para pemimpin masa kini. Hanya ingin terus memperbaiki diri, menambah pengetahuan, biar tidak kayak mereka di masa depan. Mereka itu layaknya tikus got yang pernah melarikan tapak sepatuku, Kak."

Keesokan hari koran hanya laku lima eksemplar. Terlambat sampai ke sekolah adalah keputusanku, daripada tidak ada penyangga perut hari ini. Aku Fahri. Anak sebatang kara, di kolong jembatan, yang tidak pernah merasa sebatang kara.

Salam,

Fahri

Medan, 150316

Apa Layak Takdir Dikambinghitamkan?



Apa Layak Takdir Dikambinghitamkan?

"Awalnya biasa saja.."

Penggalan lirik lagu itu mewakili perasaan awak ketika berkenalan dengan abang satu tu. Dibbmnya berkali-kali, awak buatlah PM BBM tuh "lagi sibuk". Nggak nyerah si kawan pake sistem "jinak-jinak merpati" pulak dia, luluhlah awak. Teros ya, diteleponnya awak, cerita-ceritalah kami panjang lebar. Dari hari ke hari kamipun semakin dekat.

Sekarang kita ganti soundtracknya sama lagu Panah Asmaranya Afgan ya.. Hihi..
Masih pagipun kami udah chat-an. Dia lebih sering mengobrol hal-hal yang berbau agama. Gila coy, mantap juga ya pengetahuan dia. Awak jadi dapat kuliah gratis. Setelah pertemuan kami, isi chatnya beberapa kali mau ajak ke arah yang lebih serius, nikah. Walau tidak secara gamblang cakap si kawan tu.

Lama-lama, mengulahlah si kawan tu. Jarang ada kabar, dan lain-lain. Lebih lanjut lagi, dia asli woy tak ade kabarnye.. Kuambillah tisu, nangislah sembunyi-sembunyi. Tidurpun susah. Kalau makan? Wesss, nggak ngaruh pulak ya. Awak tetap makan kayak biasa. Tapi yaa, wajah ini hilang cerahnya, kusut. Alhamdulillah, nggak sampe pulak ganggu konsentrasi kerjaan.

Awalnya dia nggak mau jujur alasannya buat kayak gitu, plintat-plintut cakapnya. Alhamdulillah, setelah lama jugak ya, dia mau jujur, yang sukanya dia sama orang lain. Shocklah awak.. Tapi ntah kenapa ya, hati ini lebih lega.

Di sela-sela mencari jawaban, awak belajar lagi banyak hal. Lebih sering "ngobrol" dengan Tuhan dan diri sendiri. Kalau dengan Tuhan, memang harus setiap saat ya.. Dengan diri sendiri? Nah, mungkin ini yang jarang kulakukan. Kayak iklan salah satu minuman bersoda itu woy, "katahu yang kumau". Nah, kenapa awak lega dengar jawaban dia, karena inilah. Awak ngobrol ma diri sendiri suatu waktu,

"Benaran sayangnya kau sama dia?"
"Ya iyalah.."

"Sebesar apa?"

"Hmm.. Nggak tau juga ya.."

"Udahlah.. Kau kayak gini macam nggak punya Tuhan aja."

"Kok gitu?"

"Ya iyalah.. Jujur kau, sering kau maksa Tuhan supaya kau sama dia kan?"

"Bukan maksa, tapi merayu."

"Halah, banyak kali cakap kau. Kata halusnya itu merayu, yang jelas itu maksa Tuhan. Yang kau pikirlah Tuhan itu pekerjamu."

"Hmmm.."

"Terdiam kau, kan? Sudahlah.. Cinta itu anugerah, Coy.. Kalau cocoknya kutub negatif dan positif kau mau si kawan tu, dan nama dia udah tertulis di Lauhul Mahfuzh, kelen bisa bersatu, tapi kalok nggak, bangkit kau kawan.. Jelek kau gitu. Ibadahnya kau kuliat.. Berdoa tu minta yang terbaik, bukan nyuruh. Kalok kau masih nyuruh Tuhan, tapi pakek berdalih "merayu" Tuhan, nangis terus kau, mengeluh pulak itu, berarti udah kau hina Tuhan. Berarti kau nggak percaya sama Dia. Heh Wak, cuma Tuhanlah yang paling ngerti ciptaan-Nya, bahkan lebih ngerti dari ciptaan-Nya itu sendiri. Udah gitu ya, ini terjadi bukan sepenuhnya salah si kawan kok. Kau aja baper, Lek. Klen sama-sama salah. Kau kurang bisa jaga hati kau tu."

"Jadi dia kekmana?"

"Ya, nggak kekmana-kekmana.. Urus aja urusan masing-masing. Gitu aja kok repot. Haha.."

Nggak ada gunanya melekatkan hati ini kepada makhluk secara berlebihan, apalagi bukan pasangan halal. Kalau itu terjadi, siap-siaplah kecewa. Percayalah kawan, Tuhan itu Maha Mengetahui, jadi kita jangan jadi sok tahu.

Pinjam ya kalimat Pak Arif RH, "Semua hal dalam hidup, hanya lewat, datang dan pergi. Siklus itu abadi. Saat siklus itu terhenti, apapun akan mati. Ini yang perlu kita sadar. Tidak mencengkram yang datang. Tidak meratapi yang pergi. Tidak mencengkram yang masuk. Tidak mengikat yang keluar."

Jika hasil tak sesuai keinginan dan rencana, apa layak takdir dikambinghitamkan?

Ok lah.. Capek juga awak merepet ya.. eh, cakap-cakap maksudnya. Hehe..

Jadi pingin nyanyilah sikit..

"Lelaki.. Buaya darat.. Busyet.." 😜😜

Nggak jadi kulanjutin karena langsung ingat, buaya juga ada yang betina. Hihi.. 😁

Udah ah,

Wassalamu'alaikum.. 😊

Horas!! 😊

Medan, 180316

Sungguh Indah Pertemuan Semalam



Sungguh indah pertemuan semalam,
Kita berada di sebuah taman yang sangat indah,
Dipenuhi dengan berbagai jenis bunga yang indah,
Juga wangi tapi tak menyengat.

Sungguh indah pertemuan semalam,
Aku masih ingat,
Kita memakai gaun yang sangat indah,
Juga sangat lembut.

Sungguh indah pertemuan semalam,
Kita saling menatap dengan keteduhan,
Tertawa lepas,
Memancarkan air muka kebahagiaan,
Walau tak mengeluarkan sepatah katapun.

Sungguh indah pertemuan semalam,
Meski hanya sehelai mimpi,
Ketika bangun,
Aku yakin, Allah merancangnya untuk kita,
Mungkin tidak untuk sekarang,
Tapi aku yakin,
Pertemuan semalam akan terjadi,
Di tempat dan waktu yang tepat.

Terima kasih, Sang Maha Pengasih..
Aku yakin Engkau akan membahagiakan dia,
Walaupun tidak ada yang memintanya,
Dia sahabatku, saudaraku,
Dan aku mencintainya karena-Mu.


Medan, 080416

Puisi di atas untuk sahabatku, Allecia Zahra (Wulan Ayuningtyas)

Apakah Perbedaan itu Salah?



Apa yang saya dapat dari "perang" argumen yang berlebihan dengan orang lain yang sudah jelas diciptakan berbeda?

Apa tujuan saya melakukan itu?

Semata-mata dalam rangka ibadah kepada Tuhankah?

Ingin menunjukkan suatu kebenarankah?

Ingin menunjukkan hal ini dan itu yang salahkah?
 
Ingin terlihat lebih pintar dan hebat dari yang lainkah?
 
Ingin menaklukkan atau sekadar mencari perhatian kepada seseorang atau segelintir orangkah?
 
Ingin menjatuhkan seseorang atau sekelompok orangkah?
 
Atau hanya ingin diakui bahwa saya memang ada di dunia ini.

Ah, alasan apapun, itu adalah hak saya.

Mungkin saya sudah cukup puas berdialog dengan diri sendiri, dengan hati sendiri, sehingga ingin rasanya berdialog dengan warga bumi lain, yang sangat disayangkan, ujung-ujungnya malah terlibat "perang" argumen, dan sungguh sedih, saya "mengangkat senjata" untuk saudara sendiri.

Tuhan, maafkan saya yang hina ini, yang sering lupa kalau saya diciptakan di dunia ini untuk beribadah kepada-Mu, bukan untuk memikirkan yang tidak layak untuk dipikirkan, melakukan yang tidak layak untuk dilakukan dan bukan untuk merusak bumi-Mu ini.

Maafkan saya, Tuhan.

Medan, 070416

***************************************************************************
Mengapa Ini yang Terjadi
(Tere feat. Vallent)

Tiada yang salah dengan perbedaan
Dan segala yang kita punya
Yang salah hanyalah sudut pandang kita
Yang membuat kita berpisah
Karna tak seharusnya,
Perbedaan menjadi jurang
Bukankah kita diciptakan
Untuk dapat saling melengkapi
Mengapa ini yang terjadi
Mestinya perbedaan bukan alasan
Untuk tak saling memahami
Harusnya cinta bisa memberi jalan
Dan satukan semua harapan...

Karena...



Mulai saat ini, Aku belajar mencintai diri sendiri dulu sebelum memutuskan untuk mencintai orang lain. Karena apa?

* Aku adalah tokoh utama kehidupanku, titipan terbesar dari Sang Maha Pencipta. Mengakui cinta Dia berarti menjaga titipan-Nya dengan cinta pula, sampai kembali lagi pada-Nya.

* Setelah mencintai diri ini, tidak mungkin aku bakal menyakiti diri sendiri dan lebih adil memperlakukan diri.

* Dengan mencintai diri sendiri, bisa lebih dekat dengan diri, dan lebih mengenal diri sendiri.

* Setelah berhasil mencintai diri sendiri, aku siap mencintai siapa saja yang Allah hadirkan di dalam hidupku dan lebih adil dalam bersikap kepadanya, di mana dia juga sayang sama dirinya.

* Menemukan damai sebenarnya.

Medan, 140316

Beda



Kau berbeda paham denganku.

Aku terkadang membencimu ketika kau lempar kritikan, kalimat "nyinyir", atau sekadar sindiran kepadaku.
Dalam hati, meski tak mengeluarkan senjata, kita saling memupuk kebencian walau praktiknya kita saling mengabaikan.

Suatu ketika, aku tersandung masalah.

Siapa orang yang dikirim Tuhan untuk mengobati lukaku?

Kau!
 
Begitulah cara kerja alam yang unik. 
 
Tak perlu heran. 
 
Karena aku, kamu, dia, dan dia ada di semesta yang sama. 
 
Sejatinya kita adalah satu. 

Maha Suci Allah yang Maha Membolak-balik hati manusia. 💟

Medan, 110316

Makna Yang Sebenarnya



"Aduh Lala.. Kenapa salah terus begitu sampai di reff? Pedalnya jangan lupa ditekan."

"Iya, Miss."

Lala kembali mengulang memainkan Truly-nya Lionel Ricci dan dia kembali lupa menekan pedal.
Miss Eva tidak sengaja melihat ke arah luar tempat kursus. Ruangan itu hanya dibatasi oleh kaca tebal transparan. Seorang pemuda sebaya Lala menunduk hormat kepadanya.

"Saya tahu kenapa kamu dari tadi tidak konsentrasi. Ya sudah, hari ini sampai di sini aja. Tapi, jangan lupa latihan di rumah ya. Pakai konsentrasi lo."

"Ok, Miss."

Kemudian Lala merapikan bukunya, pamit sama Miss Eva, dan keluar dari tempat kursus itu.

"Maaf, Mas. Lama."

"Yee.. Nggak apa-apa, Dek. Mas yang kecepatan datang. Tadi belajar lagu apa?"

"Truly-nya Lionel Ricci."

"Ah, Mas yakin kamu bisa maennya, tapi bakal nggak menjiwainya. Kamu kan nggak pernah jatuh cinta." Angga menatap Lala sambil tertawa.

"Masih kelas 3 SMA lo, Mas. Malas ah jatuh cinta."

Mereka masuk ke tempat jual eskrim, menentukan tempat duduk, memesan eskrim, kemudian lanjut mengobrol lagi.

"Mas jadi minggu depan berangkat?"

"Insya Allah, jadi."

"Mas boleh pesan beberapa hal untuk adek Batak mas ini? Mas memang bukan abang kandung kamu."

"Apa itu, Mas?" Sambil menyuapkan eskrim ke mulut.

"Menurut kamu cinta itu apa?"

"Cinta itu putih, bukan hitam. Cinta itu sejuk, bukan dingin mencekam. Cinta itu menyembuhkan, bukan membuat sakit."

"Cinta itu indah, bahkan sangat indah. Terkadang, karena terlalu indah, kita hanya perlu berdiri menatapnya dan membuat jarak. Cinta itu bisa menyerupai kembang api yang sangat indah. Kita hanya bisa menatapnya, kalau nekat mendekatinya, apalagi memegang apinya, tubuh kita bisa terluka. Bukan itu saja, si kembang api bisa cepat padam dan keindahannya cepat lenyap. Cinta itu indah, Dek.. Jangan karena ego yang tidak dikontrol malah merusak keindahannya. Jangan sekali-sekali mengatasnamakan pengorbanan, untuk ambisius mendapatkan sesuatu."

Mata Lala memerah. Dia bukan terharu, tapi mengantuk mendengar Angga bicara panjang lebar.

"Lala terharu?"

"Lala ngantuk, Mas. Mas ngomongnya kepanjangan."

"Hahaha.. Kita pesan eskrim satu lagi ya untuk kamu."

"Mbak, yang kayak gini satu lagi, ya." Sambil menunjuk ke arah Lala.

-Tamat-

Medan, 280216

Catatan Sang Pendosa



Ilmu saya terlalu dangkal kalau hanya beranggapan yang leluasa masuk ke surga-Nya hanya dinilai dari ukuran khimar/jilbab.

Terlalu jahil saya jika melihat wanita yang baru belajar menggunakan sampul takwa dengan tatapan sinis, hanya karena ukurannya kurang maksimal.

Apa saya masih pantas menyebut cinta kepada-Nya kalau merasa diri ini lebih berhak menilai daripada-Nya?

Apa saya masih berhak mengakui diri ini sadar akan Keesaan-Nya disaat saya merangkul saudara-saudara saya dengan menggunakan baju berduri?

‪#‎catatanSangPendosa
‪#‎DAS

Ku Percaya



Apakah aku pernah terpuruk?
Patah hati?
Galau?
Cita-cita terbesar tidak tercapai?
Merasa tidak ada yang sayang dan peduli?
Pernah. Semua pernah. 

Namun, pelan-pelan Aku bangkit. Ada yang pegang dan memapah? Ada. Dialah Ar-Rahman. Menghapus air mata, memeluk, dan tersenyum kepadaku dengan cara-Nya yang unik.

Di saat mulai sembuh, semua keinginan dan harapan aku terbangkan ke langit. Sudah tidak butuh apapun lagi? Siapa bilang. Namun aku sadar, Dia yang lebih mengerti diri ini dibanding diri sendiri, tahu semua kebutuhanku.

Sedih dan bahagia, keduanya anugerah. Di saat menerima tiupan cinta-Nya, sadar hakikat cinta sesungguhnya adalah memberi. Ketika dipraktikkan, akan terkejut, semakin banyak cinta itu kembali.

Nah, kini, aku menemukan obat dari rasa terpuruk itu. Bukan ke Klinik Tongfang, tapi menyerahkan diri. Bukan ke polisi ya. Hadehh!! Hihihi.. Sepenuhnya, Tanpa memikirkan hasil ke depan, percaya saja, ke Sang Robbul Izzati.

Kalau kata Uak Sujiwo Tedjo, "Menghina Tuhan bukan hanya membakar kitab suci, khawatir tidak makan saja sudah menghina Tuhan." (Sungkem Wak, kalau tak sempurna kata-katanya).
Berarti khawatir tidak bisa bangkit lagi, khawatir tidak bisa bahagia, sudah menghina Tuhan. Idih, jangan sampai ya.

***

There can be miracles, when you believe
Though hope is frail, it's hard to kill
Who knows what miracles you can achieve
When you believe
Somehow you will
You will when you believe

Medan, 210216

:)



A: “Semua menjauh dariku, bahkan orang-orang terdekatpun sudah hilang. Harapanku telah jatuh ke jurang terdalam.”

B: “Biarlah mereka semua pergi darimu. Sekarang biarkan Dia datang kepadamu dengan membawa cahaya Ar-Rahman-Nya, Dia akan memeluk dan membelaimu dengan Ar-Rahim-Nya. Tundukkanlah dirimu di depan Al-Ghaffar. Percayalah, tidak selamanya tubuhmu berada di jurang karena Dia Al-‘Adl, Dia akan segera menarikmu yang awalnya ke tepi, kemudian membawamu ke tempat yang lebih baik, yang tidak kau sangka-sangka sebelumnya. Dia akan mengganti semua yang hilang dengan cahaya Al-Wahhab dan Al-Fattaah-Nya, tepat pada waktunya.”

Medan, 170216

TANPA DIA AKU BUKAN APA-APA



Sambil dipayungi Hana, Mirna melewati hujan yang semakin deras. Mereka hendak mencari becak untuk Mirna.

“Becak!” Jerit Mirna dengan suara parau.

“Mau ke mana, Dek?”

“Ke Tembung berapa, Bang?”

“Rp. 35.000 ya, Dek.”

“Ah, mahal kali. Biasa saya nggak sampek Rp. 25.000.”

“Yang laen aja ya, Dek.”

Tidak berapa lama, datang tukang becak lain.

“Ke mana, Dek?”

“Tembung. Berapa, Wak?”

“Berapa tadi adek tawar?”

“Biasa saya nggak sampek Rp. 25.000.”

“Ok, Dek. Rp. 20.000 pun boleh.”

Mirna senang. Pamit sama Hana, lalu naik ke becak.

***

“Dek, tadi ke Tembung kan? Lewat jalan tol berarti ya? Bentar ya, Uak ambil uang dulu ke arah Peringgan.”

“Wah, jauh kali itu, Wak. Awak mau cepat, Wak. Ngomong-ngomong, jangan lewat tempat sepi ya, Wak.”

“Nggak usah takut, Dek. Uak orang baik-baik, takut sama Allah. Benaran, Dek.”

“Bukan gitu, Wak. Awak mau buru-buru, nih. Udah jam 9 malam ni, Wak.”

Mirna sudah mulai curiga. Dia sempat melirik air muka bapak itu ada yang aneh. (“Mirip penjahat film India itu..” Lirih Mirna dalam hati) Melewati kedai kopi, akhirnya mulai dibawa ke tempat sepi. Mirna langsung mengeluarkan suara besarnya.


“Uak, turun di sini aja.”

Bapak tukang becak tetap mengatakan kalau dia orang baik-baik.

Mirna kembali berteriak dan suaranya semakin keras, “Minggir, Wak.”

Tiba-tiba sebuah motor menyalip dan berhenti tepat di depan becak dan becak itu berhenti mendadak. Bapak tukang becak ketakutan, wajahnya panik. Mirna turun dari becak secepatnya. Dia hendak lari ke kedai kopi yang tadi. Sebelum dia lari, dicegat pengendara motor.

“Kak, mau ke mana. Saya gojek, Kak.” Sambil menunjukkan helm yang digantung dan jaket di balik jas hujan.

“Dek, Rp. 5000 lah sini.” Tukang becak minta uang Rp. 5000 sama Mirna. Tidak sadar ternyata dia masih di sini. Mirna hanya diam sambil peluk tas.

“Ini, Wak. Istirahat lah sana, Wak.” Tukang gojek memberi Rp. 5000 kepada tukang becak.

“Ayo, naik, Kak. Masih nggak percaya saya gojek?”

Mirna cepat-cepat naik ke motor. Di motor dia baru tenang.

“Makasih ya, Bang Gojek.”

“Mau ke mana, Kak?”

“Tembung, Bang.”

“Dari mana tadi?”

“Matahari Plaza, Bang.”

“Kok lewat sini?”

“Ntah itu, uak becak tu.”

“Hah, untung ada, Bang Gojek.”

“Untung ada Allah, Kak.”

“Hehe…”

“Sebenarnya saya ikutin kakak tadi di perempatan jalan tadi karena wajah kakak terlihat panik. Udah, sekarang kakak tenang aja ya.. Mau pakai mantel saya, Kak?”

“Nggak, makasih, Bang. Oh ya, Rp. 5000 nya nanti saya ganti sekalian ongkos ya, Bang.”

“Gampang itu, Kak.”

Dalam hati Mirna bersyukur sambil tidak berhenti mengucapkan hamdalah. Tidak mau berandai-andai kejadian dengan tukang becak tadi. Alhamdulillah.

Medan, 110216