# Lingkungan kita adalah "Kasta Sudra"
Saya, Kamu, Anda, Dia, Mereka, terkadang ingin mengambil hati orang-orang yang lebih tinggi dari kita dengan memuji dan melakukan hal-hal yang membuat senang orang-orang itu (seperti memakai topeng). X_X
# Lingkungan kita adalah "Kasta Brahmana"
Saya, Kamu, Anda, Dia, Mereka terkadang sadar atau tidak mengganggap kita segala-galanya lebih hebat daripada orang-orang di bawah kita. Kalau irang-orang itu berbuat kesalahan sedikit saja, seolah-olah itu kelihatan besar di mata kita. Sadar atau tidak, terkadang keluar dari mulut kita kata-kata yang membuat orang-orang itu sakit hati. Menurut kita kata-kata itu hanya candaan belaka saja, biasa saja menurut kita, tetapi halooo... Tidak semua orang memiliki hati seperti kita. Hati setiap orang itu beda. Itu pasti. Setelah kita mengucapkan kata-kata yang menurut kita hanya candaan saja, walau kita pernah berbuat baik sama orang-orang itu, orang-orang jadi bingung anggap kita. O:) (peri baik) atau >=) (peri jahat/setan) >> :s
Kasta apa pun itu, ini semua tentang salah satu alat di tubuh kita = mulut. Mulutmu harimaumu. Kita memang perlu menjaga lisan walau di dalam lingkungan kita adalah golongan kasta brahmana. Cobalah bercermin melalui hati nurani kita sebagai makhluk yang dianugerahi hati dan akal. Apabila di lingkungan kita adalah golongan kasta sudranya, ada baiknya kita berdamai dengan harimau kehidupan. Secara kasat mata mungkin kita kecil dari mereka. Tapi manusia dari atas sampai bawah tidak semuanya bagus dan tidak semuanya buruk. Kita pasti memiliki potensi yang mereka tidak memiliki. Dendam sama mereka? >:O. Kayaknya janganlah... Ngapain coba menahan amarah di hati. Yang ada kita bisa sakit, lalu cepat keriput. :)
Ini bukan hanya tentang saya.
Ini tentang kamu, dia dan mereka.
Ini tentang kita semua yang memiliki ego di dalam setiap diri kita masing-masing.
Ini tentang kita yang masih perlu banyak belajar membuat "balance" ego kita.
Peace... :D
-Dewi Anggraini Sitohang-
Minggu, 31 Mei 2015
Kamis, 28 Mei 2015
Tidak Ada Yang Menjadi "Sampah", karena Kita adalah Tokoh Utama di Kehidupan Sendiri
Tokoh utama. Itu adalah kita sendiri di kehidupan kita. Siapa pun itu, walau orang-orang terdekat sekalipun, seperti orang tua, saudara kandung, saudara lain, sahabat, teman ata orang yang sekedar "numpang lewat" di hari-hari kita, tetap saja kita yang jadi tokoh utama kehidupan kita. Lantas, setelah menjadia tokoh utama, apakah kita harus menajdikan semua atau sebagian orang itu seperti apa yang ada di pikiran kita? Tentu saja tidak karena kita cuma tokoh utama, bukan sutradara atau produser.
Belajar... Belajar... dan terus belajar untuk menjadi tokoh utama yang bisa beradaptasi buat kehidupan fana sebagai modal untuk kehidupan abadi kelak.
Dalam hidup, terkadang dihadapkan pada situasi pertemuan dengan tokoh lain yang membuat dada ini sesak, bahkan tidak jarang mengatakan diri sendiri sampah, mungkin dihantui oleh perasaan bersalah atau apalah namanya.
Ketahuilah, seburuk apa pun diri ini di mata diri sendiri atau orang lain, kita adalah tokoh utama dalam kehidupan kita walau tidak memiliki andil untuk menggerakkan takdir sendiri, setidaknya masih boleh memilih dalam bersikap dan memiliki pandangan.
Kalau sudah terlanjur berbuat sesuatu yang menjurus ke hal negatif, jangan terlalu takut dan jangan terlalu menyalahkan diri sendiri, yang penting, tahu kalau itu salah dan menjadikan sebagai pembelajaran untuk tidak melakukannya di kehidupan selanjutnya.
Jangan menyalahkan takdir, seburuk apa pun itu. Bahkan kalau pun sudah dihadapi dengan penolakan hebat dari seorang tokoh sekali pun. "Allah Maha Kaya. Bila satu orang manusia-Nya mengabaikanmu hari ini, yakin saja, esok hari akan hadir lebih dari satu orang manusia-Nya menghargai dan turut mengistimewakan keberadaanmu. Think easy and forgive.." (DMR)
Tidak ada yang salah dengan pertemuan dan perkenalan dengan seseorang walau melalui "kacamata" kita dia sudah bertindak negatif terhadap kita. Semua itu sudah diatur Allah dan sudah harus terjadi di episode kehidupan ini. Belum tentu kita benar melalui "kacamata" dia. Kita dan dia memang mempunyai hak untuk mengeluarkan pendapat apa pun terhadap kondisi sesuatu. Apa pun itu, hal yang semua terjadi adalah pembelajaran buat kita dan dia.
-Dewi Anggraini Sitohang-
Belajar... Belajar... dan terus belajar untuk menjadi tokoh utama yang bisa beradaptasi buat kehidupan fana sebagai modal untuk kehidupan abadi kelak.
Dalam hidup, terkadang dihadapkan pada situasi pertemuan dengan tokoh lain yang membuat dada ini sesak, bahkan tidak jarang mengatakan diri sendiri sampah, mungkin dihantui oleh perasaan bersalah atau apalah namanya.
Ketahuilah, seburuk apa pun diri ini di mata diri sendiri atau orang lain, kita adalah tokoh utama dalam kehidupan kita walau tidak memiliki andil untuk menggerakkan takdir sendiri, setidaknya masih boleh memilih dalam bersikap dan memiliki pandangan.
Kalau sudah terlanjur berbuat sesuatu yang menjurus ke hal negatif, jangan terlalu takut dan jangan terlalu menyalahkan diri sendiri, yang penting, tahu kalau itu salah dan menjadikan sebagai pembelajaran untuk tidak melakukannya di kehidupan selanjutnya.
Jangan menyalahkan takdir, seburuk apa pun itu. Bahkan kalau pun sudah dihadapi dengan penolakan hebat dari seorang tokoh sekali pun. "Allah Maha Kaya. Bila satu orang manusia-Nya mengabaikanmu hari ini, yakin saja, esok hari akan hadir lebih dari satu orang manusia-Nya menghargai dan turut mengistimewakan keberadaanmu. Think easy and forgive.." (DMR)
Tidak ada yang salah dengan pertemuan dan perkenalan dengan seseorang walau melalui "kacamata" kita dia sudah bertindak negatif terhadap kita. Semua itu sudah diatur Allah dan sudah harus terjadi di episode kehidupan ini. Belum tentu kita benar melalui "kacamata" dia. Kita dan dia memang mempunyai hak untuk mengeluarkan pendapat apa pun terhadap kondisi sesuatu. Apa pun itu, hal yang semua terjadi adalah pembelajaran buat kita dan dia.
-Dewi Anggraini Sitohang-
Tidak Perlu Kalkulasi
Salah hitung...
Jika Anda berharap setiap memasukkan uang ke dalam amplop buat resepsi undangan seperti nikah ataupun khitanan, bahwa uang tersebut akan kembali kepada Anda, lebih parahnya Anda berharap dari orang yang sama.
Salah hitung...
Jika orang tua sangat berharap kalau saat ini merawat dan membesarkan anaknya, kelak anaknya bisa berbakti lebih kepadanya.
Salah hitung...
Jika kita memberi pengemis, lalu kita berharap bahwa mereka, minimal akan mengucapkan terima kasih kepada Anda.
Salah hitung...
Jika seorang guru mendidik muridnya, lalu berharap bahwa kelak muridnya bisa membantu manakala dia dalam kesulitan.
Salah hitung...
Jika Anda pimpinan, jangan menyesal apabila setelah memotivasi, membimbing, dan mengarahkan anak buah Anda supaya mereka maju dan berkembang, dan ternyata... mereka lebih maju dan berkembang, bahkan menjadi pesaing Anda di kemudian hari.
Kenapa jangan dihitung oleh kita?
Yakinlah, setiap kita berbuat baik maka Yang Maha Kuasa akan memberikan balasan kebaikan jauh dari prakiraan dan harapan kita. Perhatikan pantulan dari gua atau tebing, ketika Anda berteriak memanggil nama seseorang akan memantul dengan pantulan yang sama dan lebih banyak.
Anda memanggil "Dewi" maka akan mematul suara, " Dewi... Dewi... Dewi... Wi... Wi... Wi..." Dan tidak berubah, misal Anda memanggil "Dewi", lalu memantul "Raihan... Raihan... Raihan... Han... Han... Han..."
Jadi, teruslah memberi yang terbaik dan jangan dihitung karena Tuhan tidak pernah lengah memperhitungkan amal dan perbuatan kita. Kalkulator Sang Maha Cinta, Maha Canggih looo...!!!
Sumber:
Saya lupa tulisan ini diambil dari mana, tapi sudah saya modifikasi sedikit di beberapa bagian
Jika Anda berharap setiap memasukkan uang ke dalam amplop buat resepsi undangan seperti nikah ataupun khitanan, bahwa uang tersebut akan kembali kepada Anda, lebih parahnya Anda berharap dari orang yang sama.
Salah hitung...
Jika orang tua sangat berharap kalau saat ini merawat dan membesarkan anaknya, kelak anaknya bisa berbakti lebih kepadanya.
Salah hitung...
Jika kita memberi pengemis, lalu kita berharap bahwa mereka, minimal akan mengucapkan terima kasih kepada Anda.
Salah hitung...
Jika seorang guru mendidik muridnya, lalu berharap bahwa kelak muridnya bisa membantu manakala dia dalam kesulitan.
Salah hitung...
Jika Anda pimpinan, jangan menyesal apabila setelah memotivasi, membimbing, dan mengarahkan anak buah Anda supaya mereka maju dan berkembang, dan ternyata... mereka lebih maju dan berkembang, bahkan menjadi pesaing Anda di kemudian hari.
Kenapa jangan dihitung oleh kita?
Yakinlah, setiap kita berbuat baik maka Yang Maha Kuasa akan memberikan balasan kebaikan jauh dari prakiraan dan harapan kita. Perhatikan pantulan dari gua atau tebing, ketika Anda berteriak memanggil nama seseorang akan memantul dengan pantulan yang sama dan lebih banyak.
Anda memanggil "Dewi" maka akan mematul suara, " Dewi... Dewi... Dewi... Wi... Wi... Wi..." Dan tidak berubah, misal Anda memanggil "Dewi", lalu memantul "Raihan... Raihan... Raihan... Han... Han... Han..."
Jadi, teruslah memberi yang terbaik dan jangan dihitung karena Tuhan tidak pernah lengah memperhitungkan amal dan perbuatan kita. Kalkulator Sang Maha Cinta, Maha Canggih looo...!!!
Sumber:
Saya lupa tulisan ini diambil dari mana, tapi sudah saya modifikasi sedikit di beberapa bagian
Tentang Hujan... Tentang Dia...
Hujan...
Satu fenomena alam yang sangat aku suka.
Dahulu aku tidak sadar kenapa aku menyukainya.
Belakangan aku baru tahu.
Ternyata di gabungan rintik-rintik hujan aku bisa mendengar suara dia.
Dan kalau keluar ruangan, bisa merasakan harum dia.
Dia yang dulu rajin ada di mimpiku jauh sebelum aku mengenalnya.
Akankah dia sama seperti hujan?
Dia akan segera pergi,
Bahkan sudah pergi sebelum dia datang.
Akankah dia kembali lagi setelah dia pergi?
-Dewi Anggraini Sitohang-
Satu fenomena alam yang sangat aku suka.
Dahulu aku tidak sadar kenapa aku menyukainya.
Belakangan aku baru tahu.
Ternyata di gabungan rintik-rintik hujan aku bisa mendengar suara dia.
Dan kalau keluar ruangan, bisa merasakan harum dia.
Dia yang dulu rajin ada di mimpiku jauh sebelum aku mengenalnya.
Akankah dia sama seperti hujan?
Dia akan segera pergi,
Bahkan sudah pergi sebelum dia datang.
Akankah dia kembali lagi setelah dia pergi?
-Dewi Anggraini Sitohang-
Langganan:
Postingan (Atom)