Kamis, 28 Mei 2015

Tidak Ada Yang Menjadi "Sampah", karena Kita adalah Tokoh Utama di Kehidupan Sendiri

Tokoh utama. Itu adalah kita sendiri di kehidupan kita. Siapa pun itu, walau orang-orang terdekat sekalipun, seperti orang tua, saudara kandung, saudara lain, sahabat, teman ata orang yang sekedar "numpang lewat" di hari-hari kita, tetap saja kita yang jadi tokoh utama kehidupan kita. Lantas, setelah menjadia tokoh utama, apakah kita harus menajdikan semua atau sebagian orang itu seperti apa yang ada di pikiran kita? Tentu saja tidak karena kita cuma tokoh utama, bukan sutradara atau produser.

Belajar... Belajar... dan terus belajar untuk menjadi tokoh utama yang bisa beradaptasi buat kehidupan fana sebagai modal untuk kehidupan abadi kelak.

Dalam hidup, terkadang dihadapkan pada situasi pertemuan dengan tokoh lain yang membuat dada ini sesak, bahkan tidak jarang mengatakan diri sendiri sampah, mungkin dihantui oleh perasaan bersalah atau apalah namanya.

Ketahuilah, seburuk apa pun diri ini di mata diri sendiri atau orang lain, kita adalah tokoh utama dalam kehidupan kita walau tidak memiliki andil untuk menggerakkan takdir sendiri, setidaknya masih boleh memilih dalam bersikap dan memiliki pandangan.

Kalau sudah terlanjur berbuat sesuatu yang menjurus ke hal negatif, jangan terlalu takut dan jangan terlalu menyalahkan diri sendiri, yang penting, tahu kalau itu salah dan menjadikan sebagai pembelajaran untuk tidak melakukannya di kehidupan selanjutnya.

Jangan menyalahkan takdir, seburuk apa pun itu. Bahkan kalau pun sudah dihadapi dengan penolakan hebat dari seorang tokoh sekali pun. "Allah Maha Kaya. Bila satu orang manusia-Nya mengabaikanmu hari ini, yakin saja, esok hari akan hadir lebih dari satu orang manusia-Nya menghargai dan turut mengistimewakan keberadaanmu. Think easy and forgive.." (DMR)

Tidak ada yang salah dengan pertemuan dan perkenalan dengan seseorang walau melalui "kacamata" kita dia sudah bertindak negatif terhadap kita. Semua itu sudah diatur Allah dan sudah harus terjadi di episode kehidupan ini. Belum tentu kita benar melalui "kacamata" dia. Kita dan dia memang mempunyai hak untuk mengeluarkan pendapat apa pun terhadap kondisi sesuatu. Apa pun itu, hal yang semua terjadi adalah pembelajaran buat kita dan dia.

-Dewi Anggraini Sitohang-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar