Kamis, 26 November 2015

Tidak Perlu Pembuktian Hebat



Suasana di angkot hampir terisi semua tempat duduk. Di barisan tempat duduk Khumaira memang sudah penuh, tetapi di barisan depan masih tersisa dua orang lagi. Tiba di Jl. Sutomo ada seorang ibu dan anaknya yang disabilitas naik. Si ibu minta geser sedikit, anaknya kebingungan (posisi belum duduk). Khumaira memegang tangannya, takut terjatuh. Sungguh sayang, barisan yang seharusnya masih tersisa dua orang, ada seorang gadis yang tidak mau menggeser tempat duduknya, mukanya datar saja. Jadinya, si ibu mengalah. Dia memangku anaknya. Kasihan, karena usia anak tersebut sebenarnya sudah dewasa, pasti ibu itu kakinya jadi sakit. Khumaira sudah bilang dengan tegas sama gadis yang tidak mau bergeser tempat duduk itu, tapi dia sama sekali tidak menggubris. Syukurlah, bapak yang duduk di samping Khumaira turun duluan. Anak ibu itu duduk di samping Khumaira akhirnya. Sepertinya gadis itu agak takut dengan Khumaira, karena matanya yang agak tajam dan pakai masker pula. Khumaira membuka maskernya dan tersenyum sama si gadis, dia menjadi tidak takut lagi. Mereka sampai tujuan, dan si ibu tersenyum sama Khumaira.

Ibu itu berbeda etnis dengan penumpang yang lain. Tapi haruskah sebegitu membenci? Kita ini warga bumi. Bumi ini juga bukan milik kita. Sudah habiskah stok cinta di hati kita kepada makhluk bumi? Tidak perlu kok secara besar-besaran kita membuktikan cinta sesama dengan menghambur-hamburkan materi dengan publikasikan di surat kabar, televisi, dan media sosial lain kalau kita lagi bersama anak panti asuhan. Cinta itu sederhana. Buang ego yang berlebihan di diri kita. Jangan karena beda etnis dan kepercayaan kita jadi berlaku tidak adil kepada kaum lain. Cinta itu sejatinya memberi, memberi kehangatan yang ada pada diri kita dengan kadar wajar untuk warga bumi. Cinta itu sebenarnya belum hilang kok, hanya tersimpan di bank hati kita, dan kita lupa memancarkannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar