Kamis, 26 November 2015
Teller Miring
Seorang laki-laki diperkirakan umur 30-35 tahun mendatangi sebuah bank dan transaksi di tempat teller. Kondisi bank tidak begitu ramai. Hanya tiga nasabah dengan tellernya lima orang, jadi ada dua counter yang kosong.
“Selamat pagi, Pak. Saya Lala. Boleh saya tahu nama Bapak?” (Menyapa dengan senyuman)
“Bayu. Kalau nama Kamu Saya boleh tahu, Dek?” (Sambil senyum-senyum tidak jelas)
“Kan tadi sudah saya kenalkan diri saya Pak. Itu nama saya, ada di papan nama.” (Sambil nunjuk sebuah papan nama)
“Langsung saja Pak, ada yang bisa saya bantu?” (Dalam hati sudah mulai malas lihat bapak itu).
“Saya mau transfer Dek, 100 juta aja Dek, ke rekening mama saya, Romlah namanya.”
“Ini slipnya Pak, silahkan diisi.”
“Ini gimana ya Dek cara ngisinya?”
“Ok, saya bantu tulis ya Pak. Bapak, ada no rekening di sini? No nya berapa? Untuk kelengkapan data slip.”
“Ada lah Dek, 7 rekening saya di sini. Satu rekening saja kira-kira 5jutaan.” (Tangan sudah mulai bergerak ke arah tangan teller. Nggak tahu dia tellernya mengerikan. Untung saja tellernya punya kecepatan tinggi dalam menulis walau tulisannya hanya alien lah yang bakal bisa baca)
“Uangnya boleh saya hitung Pak?”
“Oh, silahkan Dek, ini uangnya..”
“Maaf Pak, uangnya dilepas saja di meja. Kan kita bisa sama-sama lihat.”
“Hehehe… Iya Dek, ini uangnya.” (Muka udah mulai mupeng)
Uangnya segera diambil si teller dengan terlebih dahulu menghitung jumlah globalnya.
“Globalnya 100 juta ya Pak. Saya hitung mesin. Silahkan diperhatikan.”
“Iya Dek…:D” (Muka tambah menunjukkan indikasi kalau Bapak ini kurang perhatian)
Sambil mesin uang, Bapak itu mengajak ngobrol.
“Dek, nanti pulang dijeput ya?”
“Dijeput Pak, ma suami saya.”
“Lo? Bukannya front liner di sini belum boleh menikah?”
Si teller hanya diam saja dengan volume mata mulai lebih besar, menjurus agak melotot, dan dengan senyum terpaksa.
Ketika blok-an terakhir, uangnya kurang tiga lembar. Si teller minta izin sama Bapak itu untuk hitung pakai tangan. Nah, sebelum hitung pakai tangan, si teller mulai bertindak kurang waras. Dia ngupil dengan tenangnya, lebih dalam, dan mengeluarkan sedikit upil, dengan mata ke arah bapak itu. Bapak itu memperhatikan teller itu. Mungkin saja Beliau jijik, spontan mundur tiga langkah ke belakang. Akhirnya dia diam saja dengan muka yang datar. Ilfil mungkin dia ya. Hohoho…
“Uangnya ternyata lengket ya Pak. Pas ini.” (Senyum si teller mengembang sambil mesin uang, ternyata uangnya memang pas. Tadi lengket).
“Uangnya cocok ya Pak, 100 juta. Ditunggu sebentar.”
Si Bapak hanya diam saja sambil agak cemberut.
“100 juta ke rekening Ibu Romlah Jaimah sudah masuk Pak. Transaksinya sudah selesai, ada lagi yang bisa saya bantu?”
Bapak itu diam dan buru-buru meninggalkan counter itu.
Medan, 021015
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar