Selasa, 22 September 2015

Hanya mampu menjadi sebatang lilin… The Right Moment In The Right Time… ;)

Ini dia tulisan waktu zaman lebay-lebaynya aku.. Ditulis sekitar tahun 2010.



Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 12.20 dini hari, tapi dewi belum bisa tidur, jadi ketimbang ngayal yang aneh-aneh, mendingan dewi ngetik cerita tentang Laras aja ya…
catatan: Laras itu tokoh fiktif aja kok..;)

*Impian Laras Sejak Usia 20 Tahun*

Aku Laras…

Suatu saat seorang “pangeran berkuda putih” akan datang menjemputku.
Tahukah kalian…

Aku akan mengatakan pada pangeran tersebut bahwa aku hanya mampu menjadi sebatang lilin bagi dia, bukan matahari.

Matahari mempunyai cahaya yang permanen dan abadi untuk menyinari bumi sampai sangkakala ditiup oleh Malaikat Isrofil. Sedangkan sebatang lilin, cahaya yang diberikannya tidak abadi. Dia tidak memerlukan waktu sampai kiamat untuk redup, cahayanya bisa muncul kembali jika si pemilik mengumpulkan kerak lilin yang mencair kemudian menancapkan kembali sumbu tersebut di kumpulan kerak lilin tersebut, begitu seterusnya.

Siti Nurhaliza dan Afgan mengatakan, Cintaku bukan cinta biasa… Lain halnya dengan aku. Aku hanya bisa menawarkan “cinta yang biasa” kepada pangeranku kelak. Karena aku sangat sadar kalau aku hanyalah karya Sang Maha Pencipta yang hatinya bisa terbolak-balik menurut kehendak-Nya.

Aku tidak mau mengumbar janji akan membahagiakan dia seutuhnya (total) karena kebahagiaan itu sebenarnya sudah ada di dalam hati manusia masing-masing, terkadang dia tidur, terkadang dia bangun, tinggal bagaimana manusia tersebut menginterpretasikan kondisi yang terjadi di tiap lembar kehidupannya. Salah satu kunci bahagia itu, tetapi memiliki poin yang cukup besar adalah ikhlas. Dia ikhlas menerimaku sebagai pasangan hidupnya, otomatis bagaimana pun kondisi kehidupan kami dia tetap merasakan kebahagiaan itu, walau kebahagiaan tersebut akan terlihat seperti grafik tingkat pertumbuhan pendapatan masyarakat (naik turun).

Cintaku memang hanyalah cinta yang sederhana, tetapi…
Sama seperti lilin, di ruangan yang gelap, cahayanya akan terasa begitu istimewa. Aku akan selalu menemaninya di sisa hidupnya walau di suatu keadaan seluruh manusia di dunia ini memusuhinya. Mungkin aku tidak bisa menciptakan tawa di wajahnya ketika dia sedang bersedih dan menangis, tetapi aku akan menghapus air matanya dengan kedua tangan kecil yang kumiliki, aku akan mendengar semua cerita dia, walau aku mungkin tidak paham seutuhnya tentang kesedihan yang dialaminya. Mungkin aku tidak mampu melakukan apa yang mampu dilakukannya, kami memiliki “dunia yang berbeda”, tetapi aku akan melengkapi sisa-sisa hal-hal yang tidak mampu dilakukannya, seperti jumlah abjad, misal dia melakukan A-N, aku melakukan O-Z, karena aku menyadari hidup ini adalah saling melengkapi bukan saling menandingi.
+++++++ (tambahan cerita. hehe..)

Hmmm… kalau yang ini siy ga wajib2 kali.. Mungkin Laras akan sedih jika pangeran Laras kelak benci atau tidak suka dengan kucing, Laras says, “because I love the cats so much”. Laras memang ga punya kucing peliharaan, tetapi kucing-kucing yang datang ke rumahnya akan diberi makan seadanya. Semua kucing diperlakukan sama oleh Laras (walau kucing kurapan sekali pun), setiap Laras melihat kucing (walau ga selalu, di tempat keramaian ya Laras ga mau manggil2 kucing, ntar disangka orang kurang waras), Laras akan memanggil kucing itu dengan sebutan, “Puuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuss..”. Satu lagi, Laras mempunyai impian untuk ke Jerman suatu hari, maunya siy dengan pangerannya, tetapi sendiri ya gak apa2 lah… Pada umumnya, orang2 berpendapat, Paris adalah kota yang romantis dan indah, hmm, Laras bilang, kota2 di Jerman lah yang romantis dan ga kalah indahnya dengan Paris. Pokoke: “Jerman… I’m coming”.
Saat ini, Laras belum bertemu dengan pangeran sejatinya. Tetapi dia percaya. Soon or later, pangerannya akan datang menjemputnya, walau ga pake kuda. Ooooo...
Sekian dulu cerita tentang Laras.

(note)
Pada suatu saat kita akan dihadapi dengan seseorang yang kita sangka dia adalah “pangeran” atau "permaisuri" kita, tetapi tiba-tiba dia menghilang dari kehidupan kita disaat kita belum memiliki persiapan, lalu apa yang harus kita lakukan??? Kita ga boleh larut… karena kita bertemu dengan orang yang salah dulu baru bertemu dengan orang yang benar buat kita. Kalau ga ada orang yang memotivasi kita di saat kita terpuruk, ya kita harus bangkit sendiri. Hidup ini seperti buku, terdiri dari berlembar2 cerita, kita adalah tokoh utama dalam kehidupan kita masing-masing, jadi siap atau ga siap kita harus sabar melewati lembar demi lembar kehidupan kita. Semua akan terjadi sesuai dengan porsinya masing-masing di waktu yang tepat. The right moment in the right time..;)
Jam sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Dewi udah ngantuk...
Werde mich hinlegen..
Guten Abend..:)

(^_^)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar