Ini dia tulisan waktu zaman lebay-lebaynya aku.. Ditulis sekitar tahun 2010.
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 12.20 dini hari, tapi dewi belum bisa
tidur, jadi ketimbang ngayal yang aneh-aneh, mendingan dewi ngetik cerita
tentang Laras aja ya…
catatan: Laras itu tokoh fiktif aja kok..;)
*Impian Laras Sejak Usia 20 Tahun*
Aku Laras…
Suatu saat seorang “pangeran berkuda putih” akan datang menjemputku.
Tahukah kalian…
Aku akan mengatakan pada pangeran tersebut bahwa aku hanya mampu menjadi
sebatang lilin bagi dia, bukan matahari.
Matahari mempunyai cahaya yang permanen dan abadi untuk menyinari bumi
sampai sangkakala ditiup oleh Malaikat Isrofil. Sedangkan sebatang lilin,
cahaya yang diberikannya tidak abadi. Dia tidak memerlukan waktu sampai kiamat
untuk redup, cahayanya bisa muncul kembali jika si pemilik mengumpulkan kerak
lilin yang mencair kemudian menancapkan kembali sumbu tersebut di kumpulan
kerak lilin tersebut, begitu seterusnya.
Siti Nurhaliza dan Afgan mengatakan, Cintaku bukan cinta biasa… Lain halnya
dengan aku. Aku hanya bisa menawarkan “cinta yang biasa” kepada pangeranku
kelak. Karena aku sangat sadar kalau aku hanyalah karya Sang Maha Pencipta yang
hatinya bisa terbolak-balik menurut kehendak-Nya.
Aku tidak mau mengumbar janji akan membahagiakan dia seutuhnya (total) karena
kebahagiaan itu sebenarnya sudah ada di dalam hati manusia masing-masing,
terkadang dia tidur, terkadang dia bangun, tinggal bagaimana manusia tersebut
menginterpretasikan kondisi yang terjadi di tiap lembar kehidupannya. Salah
satu kunci bahagia itu, tetapi memiliki poin yang cukup besar adalah ikhlas.
Dia ikhlas menerimaku sebagai pasangan hidupnya, otomatis bagaimana pun kondisi
kehidupan kami dia tetap merasakan kebahagiaan itu, walau kebahagiaan tersebut
akan terlihat seperti grafik tingkat pertumbuhan pendapatan masyarakat (naik
turun).
Cintaku memang hanyalah cinta yang sederhana, tetapi…
Sama seperti lilin, di ruangan yang gelap, cahayanya akan terasa begitu
istimewa. Aku akan selalu menemaninya di sisa hidupnya walau di suatu keadaan
seluruh manusia di dunia ini memusuhinya. Mungkin aku tidak bisa menciptakan
tawa di wajahnya ketika dia sedang bersedih dan menangis, tetapi aku akan
menghapus air matanya dengan kedua tangan kecil yang kumiliki, aku akan
mendengar semua cerita dia, walau aku mungkin tidak paham seutuhnya tentang
kesedihan yang dialaminya. Mungkin aku tidak mampu melakukan apa yang mampu
dilakukannya, kami memiliki “dunia yang berbeda”, tetapi aku akan melengkapi
sisa-sisa hal-hal yang tidak mampu dilakukannya, seperti jumlah abjad, misal
dia melakukan A-N, aku melakukan O-Z, karena aku menyadari hidup ini adalah
saling melengkapi bukan saling menandingi.
+++++++ (tambahan cerita. hehe..)
Hmmm… kalau yang ini siy ga wajib2 kali.. Mungkin Laras akan sedih jika
pangeran Laras kelak benci atau tidak suka dengan kucing, Laras says, “because
I love the cats so much”. Laras memang ga punya kucing peliharaan, tetapi
kucing-kucing yang datang ke rumahnya akan diberi makan seadanya. Semua kucing
diperlakukan sama oleh Laras (walau kucing kurapan sekali pun), setiap Laras
melihat kucing (walau ga selalu, di tempat keramaian ya Laras ga mau manggil2
kucing, ntar disangka orang kurang waras), Laras akan memanggil kucing itu
dengan sebutan, “Puuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuss..”. Satu lagi, Laras mempunyai
impian untuk ke Jerman suatu hari, maunya siy dengan pangerannya, tetapi
sendiri ya gak apa2 lah… Pada umumnya, orang2 berpendapat, Paris
adalah kota yang romantis dan indah, hmm, Laras
bilang, kota2 di Jerman lah yang romantis dan ga kalah indahnya dengan Paris. Pokoke: “Jerman…
I’m coming”.
Saat ini, Laras belum bertemu dengan pangeran sejatinya. Tetapi dia percaya.
Soon or later, pangerannya akan datang menjemputnya, walau ga pake kuda.
Ooooo...
Sekian dulu cerita tentang Laras.
(note)
Pada suatu saat kita akan dihadapi dengan seseorang yang kita sangka dia
adalah “pangeran” atau "permaisuri" kita, tetapi tiba-tiba dia
menghilang dari kehidupan kita disaat kita belum memiliki persiapan, lalu apa
yang harus kita lakukan??? Kita ga boleh larut… karena kita bertemu dengan
orang yang salah dulu baru bertemu dengan orang yang benar buat kita. Kalau ga
ada orang yang memotivasi kita di saat kita terpuruk, ya kita harus bangkit
sendiri. Hidup ini seperti buku, terdiri dari berlembar2 cerita, kita adalah tokoh
utama dalam kehidupan kita masing-masing, jadi siap atau ga siap kita harus
sabar melewati lembar demi lembar kehidupan kita. Semua akan terjadi sesuai
dengan porsinya masing-masing di waktu yang tepat. The right moment in the
right time..;)
Jam sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Dewi udah ngantuk...
Werde mich
hinlegen..
Guten Abend..:)
(^_^)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar