Senin, 18 April 2016

TANPA DIA AKU BUKAN APA-APA



Sambil dipayungi Hana, Mirna melewati hujan yang semakin deras. Mereka hendak mencari becak untuk Mirna.

“Becak!” Jerit Mirna dengan suara parau.

“Mau ke mana, Dek?”

“Ke Tembung berapa, Bang?”

“Rp. 35.000 ya, Dek.”

“Ah, mahal kali. Biasa saya nggak sampek Rp. 25.000.”

“Yang laen aja ya, Dek.”

Tidak berapa lama, datang tukang becak lain.

“Ke mana, Dek?”

“Tembung. Berapa, Wak?”

“Berapa tadi adek tawar?”

“Biasa saya nggak sampek Rp. 25.000.”

“Ok, Dek. Rp. 20.000 pun boleh.”

Mirna senang. Pamit sama Hana, lalu naik ke becak.

***

“Dek, tadi ke Tembung kan? Lewat jalan tol berarti ya? Bentar ya, Uak ambil uang dulu ke arah Peringgan.”

“Wah, jauh kali itu, Wak. Awak mau cepat, Wak. Ngomong-ngomong, jangan lewat tempat sepi ya, Wak.”

“Nggak usah takut, Dek. Uak orang baik-baik, takut sama Allah. Benaran, Dek.”

“Bukan gitu, Wak. Awak mau buru-buru, nih. Udah jam 9 malam ni, Wak.”

Mirna sudah mulai curiga. Dia sempat melirik air muka bapak itu ada yang aneh. (“Mirip penjahat film India itu..” Lirih Mirna dalam hati) Melewati kedai kopi, akhirnya mulai dibawa ke tempat sepi. Mirna langsung mengeluarkan suara besarnya.


“Uak, turun di sini aja.”

Bapak tukang becak tetap mengatakan kalau dia orang baik-baik.

Mirna kembali berteriak dan suaranya semakin keras, “Minggir, Wak.”

Tiba-tiba sebuah motor menyalip dan berhenti tepat di depan becak dan becak itu berhenti mendadak. Bapak tukang becak ketakutan, wajahnya panik. Mirna turun dari becak secepatnya. Dia hendak lari ke kedai kopi yang tadi. Sebelum dia lari, dicegat pengendara motor.

“Kak, mau ke mana. Saya gojek, Kak.” Sambil menunjukkan helm yang digantung dan jaket di balik jas hujan.

“Dek, Rp. 5000 lah sini.” Tukang becak minta uang Rp. 5000 sama Mirna. Tidak sadar ternyata dia masih di sini. Mirna hanya diam sambil peluk tas.

“Ini, Wak. Istirahat lah sana, Wak.” Tukang gojek memberi Rp. 5000 kepada tukang becak.

“Ayo, naik, Kak. Masih nggak percaya saya gojek?”

Mirna cepat-cepat naik ke motor. Di motor dia baru tenang.

“Makasih ya, Bang Gojek.”

“Mau ke mana, Kak?”

“Tembung, Bang.”

“Dari mana tadi?”

“Matahari Plaza, Bang.”

“Kok lewat sini?”

“Ntah itu, uak becak tu.”

“Hah, untung ada, Bang Gojek.”

“Untung ada Allah, Kak.”

“Hehe…”

“Sebenarnya saya ikutin kakak tadi di perempatan jalan tadi karena wajah kakak terlihat panik. Udah, sekarang kakak tenang aja ya.. Mau pakai mantel saya, Kak?”

“Nggak, makasih, Bang. Oh ya, Rp. 5000 nya nanti saya ganti sekalian ongkos ya, Bang.”

“Gampang itu, Kak.”

Dalam hati Mirna bersyukur sambil tidak berhenti mengucapkan hamdalah. Tidak mau berandai-andai kejadian dengan tukang becak tadi. Alhamdulillah.

Medan, 110216

Tidak ada komentar:

Posting Komentar