Senin, 18 April 2016

Apa Layak Takdir Dikambinghitamkan?



Apa Layak Takdir Dikambinghitamkan?

"Awalnya biasa saja.."

Penggalan lirik lagu itu mewakili perasaan awak ketika berkenalan dengan abang satu tu. Dibbmnya berkali-kali, awak buatlah PM BBM tuh "lagi sibuk". Nggak nyerah si kawan pake sistem "jinak-jinak merpati" pulak dia, luluhlah awak. Teros ya, diteleponnya awak, cerita-ceritalah kami panjang lebar. Dari hari ke hari kamipun semakin dekat.

Sekarang kita ganti soundtracknya sama lagu Panah Asmaranya Afgan ya.. Hihi..
Masih pagipun kami udah chat-an. Dia lebih sering mengobrol hal-hal yang berbau agama. Gila coy, mantap juga ya pengetahuan dia. Awak jadi dapat kuliah gratis. Setelah pertemuan kami, isi chatnya beberapa kali mau ajak ke arah yang lebih serius, nikah. Walau tidak secara gamblang cakap si kawan tu.

Lama-lama, mengulahlah si kawan tu. Jarang ada kabar, dan lain-lain. Lebih lanjut lagi, dia asli woy tak ade kabarnye.. Kuambillah tisu, nangislah sembunyi-sembunyi. Tidurpun susah. Kalau makan? Wesss, nggak ngaruh pulak ya. Awak tetap makan kayak biasa. Tapi yaa, wajah ini hilang cerahnya, kusut. Alhamdulillah, nggak sampe pulak ganggu konsentrasi kerjaan.

Awalnya dia nggak mau jujur alasannya buat kayak gitu, plintat-plintut cakapnya. Alhamdulillah, setelah lama jugak ya, dia mau jujur, yang sukanya dia sama orang lain. Shocklah awak.. Tapi ntah kenapa ya, hati ini lebih lega.

Di sela-sela mencari jawaban, awak belajar lagi banyak hal. Lebih sering "ngobrol" dengan Tuhan dan diri sendiri. Kalau dengan Tuhan, memang harus setiap saat ya.. Dengan diri sendiri? Nah, mungkin ini yang jarang kulakukan. Kayak iklan salah satu minuman bersoda itu woy, "katahu yang kumau". Nah, kenapa awak lega dengar jawaban dia, karena inilah. Awak ngobrol ma diri sendiri suatu waktu,

"Benaran sayangnya kau sama dia?"
"Ya iyalah.."

"Sebesar apa?"

"Hmm.. Nggak tau juga ya.."

"Udahlah.. Kau kayak gini macam nggak punya Tuhan aja."

"Kok gitu?"

"Ya iyalah.. Jujur kau, sering kau maksa Tuhan supaya kau sama dia kan?"

"Bukan maksa, tapi merayu."

"Halah, banyak kali cakap kau. Kata halusnya itu merayu, yang jelas itu maksa Tuhan. Yang kau pikirlah Tuhan itu pekerjamu."

"Hmmm.."

"Terdiam kau, kan? Sudahlah.. Cinta itu anugerah, Coy.. Kalau cocoknya kutub negatif dan positif kau mau si kawan tu, dan nama dia udah tertulis di Lauhul Mahfuzh, kelen bisa bersatu, tapi kalok nggak, bangkit kau kawan.. Jelek kau gitu. Ibadahnya kau kuliat.. Berdoa tu minta yang terbaik, bukan nyuruh. Kalok kau masih nyuruh Tuhan, tapi pakek berdalih "merayu" Tuhan, nangis terus kau, mengeluh pulak itu, berarti udah kau hina Tuhan. Berarti kau nggak percaya sama Dia. Heh Wak, cuma Tuhanlah yang paling ngerti ciptaan-Nya, bahkan lebih ngerti dari ciptaan-Nya itu sendiri. Udah gitu ya, ini terjadi bukan sepenuhnya salah si kawan kok. Kau aja baper, Lek. Klen sama-sama salah. Kau kurang bisa jaga hati kau tu."

"Jadi dia kekmana?"

"Ya, nggak kekmana-kekmana.. Urus aja urusan masing-masing. Gitu aja kok repot. Haha.."

Nggak ada gunanya melekatkan hati ini kepada makhluk secara berlebihan, apalagi bukan pasangan halal. Kalau itu terjadi, siap-siaplah kecewa. Percayalah kawan, Tuhan itu Maha Mengetahui, jadi kita jangan jadi sok tahu.

Pinjam ya kalimat Pak Arif RH, "Semua hal dalam hidup, hanya lewat, datang dan pergi. Siklus itu abadi. Saat siklus itu terhenti, apapun akan mati. Ini yang perlu kita sadar. Tidak mencengkram yang datang. Tidak meratapi yang pergi. Tidak mencengkram yang masuk. Tidak mengikat yang keluar."

Jika hasil tak sesuai keinginan dan rencana, apa layak takdir dikambinghitamkan?

Ok lah.. Capek juga awak merepet ya.. eh, cakap-cakap maksudnya. Hehe..

Jadi pingin nyanyilah sikit..

"Lelaki.. Buaya darat.. Busyet.." 😜😜

Nggak jadi kulanjutin karena langsung ingat, buaya juga ada yang betina. Hihi.. 😁

Udah ah,

Wassalamu'alaikum.. 😊

Horas!! 😊

Medan, 180316

2 komentar: