"Aduh Lala.. Kenapa salah terus begitu sampai di reff? Pedalnya jangan lupa ditekan."
"Iya, Miss."
Lala kembali mengulang memainkan Truly-nya Lionel Ricci dan dia kembali lupa menekan pedal.
Miss Eva tidak sengaja melihat ke arah luar tempat kursus. Ruangan itu hanya dibatasi oleh kaca tebal transparan. Seorang pemuda sebaya Lala menunduk hormat kepadanya.
"Saya tahu kenapa kamu dari tadi tidak konsentrasi. Ya sudah, hari ini sampai di sini aja. Tapi, jangan lupa latihan di rumah ya. Pakai konsentrasi lo."
"Ok, Miss."
Kemudian Lala merapikan bukunya, pamit sama Miss Eva, dan keluar dari tempat kursus itu.
"Maaf, Mas. Lama."
"Yee.. Nggak apa-apa, Dek. Mas yang kecepatan datang. Tadi belajar lagu apa?"
"Truly-nya Lionel Ricci."
"Ah, Mas yakin kamu bisa maennya, tapi bakal nggak menjiwainya. Kamu kan nggak pernah jatuh cinta." Angga menatap Lala sambil tertawa.
"Masih kelas 3 SMA lo, Mas. Malas ah jatuh cinta."
Mereka masuk ke tempat jual eskrim, menentukan tempat duduk, memesan eskrim, kemudian lanjut mengobrol lagi.
"Mas jadi minggu depan berangkat?"
"Insya Allah, jadi."
"Mas boleh pesan beberapa hal untuk adek Batak mas ini? Mas memang bukan abang kandung kamu."
"Apa itu, Mas?" Sambil menyuapkan eskrim ke mulut.
"Menurut kamu cinta itu apa?"
"Cinta itu putih, bukan hitam. Cinta itu sejuk, bukan dingin mencekam. Cinta itu menyembuhkan, bukan membuat sakit."
"Cinta itu indah, bahkan sangat indah. Terkadang, karena terlalu indah, kita hanya perlu berdiri menatapnya dan membuat jarak. Cinta itu bisa menyerupai kembang api yang sangat indah. Kita hanya bisa menatapnya, kalau nekat mendekatinya, apalagi memegang apinya, tubuh kita bisa terluka. Bukan itu saja, si kembang api bisa cepat padam dan keindahannya cepat lenyap. Cinta itu indah, Dek.. Jangan karena ego yang tidak dikontrol malah merusak keindahannya. Jangan sekali-sekali mengatasnamakan pengorbanan, untuk ambisius mendapatkan sesuatu."
Mata Lala memerah. Dia bukan terharu, tapi mengantuk mendengar Angga bicara panjang lebar.
"Lala terharu?"
"Lala ngantuk, Mas. Mas ngomongnya kepanjangan."
"Hahaha.. Kita pesan eskrim satu lagi ya untuk kamu."
"Mbak, yang kayak gini satu lagi, ya." Sambil menunjuk ke arah Lala.
-Tamat-
Medan, 280216
Tidak ada komentar:
Posting Komentar