Senin, 18 April 2016

Tikus Got



Alhamdulillah, hanya bersisa dua koran yang tidak laku, jadi tidak terlambat pergi ke sekolah. Hah, tapak sepatu yang baru dijahit pakai tali plastik semalam, hilang. Kemungkinan dilarikan tikus got. Tidak apa-apa, hari ini biarlah bertelanjang kaki. Pernah ditanya seorang kakak,

"Cita-citamu apa, Dek?"

"Aku hanya tidak ingin jadi "pencuri", Kak."

"Seperti pencopet di jalan itu, ya?"

"Bukan. Aku tidak ingin mengemis ke orang banyak seperti para pemimpin masa kini. Hanya ingin terus memperbaiki diri, menambah pengetahuan, biar tidak kayak mereka di masa depan. Mereka itu layaknya tikus got yang pernah melarikan tapak sepatuku, Kak."

Keesokan hari koran hanya laku lima eksemplar. Terlambat sampai ke sekolah adalah keputusanku, daripada tidak ada penyangga perut hari ini. Aku Fahri. Anak sebatang kara, di kolong jembatan, yang tidak pernah merasa sebatang kara.

Salam,

Fahri

Medan, 150316

2 komentar:

  1. Balasan
    1. Ini cerita yang banyak terjadi lo, Rin? Kakak banyak nemuin yang kayak gini. Hanya namanya bukan Fahri. :)

      Hapus